Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026, Kapan Lebaran Versi NU?
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat (20/3/2026).
Keputusan tersebut sebenarnya telah diumumkan sejak Oktober 2025 melalui maklumat resmi PP Muhammadiyah.
Penetapan itu didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid.
Penentuan awal Syawal 1447 H juga mengacu pada prinsip, syarat, serta parameter Kalender Hijriah Global Tunggal.
Sistem kalender ini merupakan hasil Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah yang digelar di Pekalongan pada 2024.
Jika Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri pada Jumat (20/3/2026), kapan Lebaran menurut NU?
Kapan Idul Fitri 2026 Menurut NU?
Penetapan Hari Raya Idul Fitri oleh Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan menjelang akhir Ramadhan.
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah merilis informasi terkait perhitungan hilal awal Syawal 1447 Hijriah untuk Kamis, 19 Maret 2026.
Dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (11/3/2026), perhitungan tersebut dilakukan menggunakan metode ilmu falak (hisab) jama’i atau tahqiqy tadqiky ashri kontemporer yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.
Penghitungan dilakukan untuk Kamis Kliwon, 29 Ramadhan 1447 H atau bertepatan dengan 19 Maret 2026.
Markaz nasional yang dijadikan acuan adalah Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, ijtimak diperkirakan terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 08.25.58 WIB.
Sementara itu, tinggi hilal mar’i tercatat +1 derajat 43 menit 54 detik, dengan elongasi hilal haqiqy 5 derajat 44 menit 49 detik.
Lama hilal diperkirakan mencapai 10 menit 51 detik setelah Matahari terbenam.
Dari data falakiyah tersebut diketahui bahwa parameter hilal terkecil berada di wilayah Merauke, Papua Selatan, sedangkan parameter terbesar tercatat di Sabang, Aceh.
Dengan demikian, posisi hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia. Namun demikian, posisinya saat ghurub masih berada di bawah kriteria IRNU.
"Sehingga seluruh Indonesia berada pada zona istihalah al–rukyah. Data falakiyah tersebut merupakan produk penyerasian metode ilmu falak dari sistem tahqiqy tadqiky ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama yang mencakup 8 sistem," jelas Lembaga Falakiyah NU.
"Masing–masing sistem al–Khulashah al–Wafiyah, Irsyadul Murid, Mawaaqit, Tsamaratul Fikar, Newcomb, Badi’atul Mitsal, Nurul Anwar dan ad–Durul Anieq," tambahnya.
Karena itu, rukyatul hilal untuk menentukan awal Syawal 1447 H tetap dilakukan pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 H.
Apabila hilal terlihat, NU akan menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat sebelum menyampaikan ikhbar atau pengumuman resmi.
Namun, jika hilal tidak terlihat, maka kemungkinan awal Syawal akan ditetapkan melalui metode istikmal sehingga 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu (21/3/2026).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang