Alasan Burung dari Rusia dan China Bermigrasi ke Tulungagung dan Trenggalek

Burung-burung akan bermigrasi puluhan hingga ratusan kilometer jauhnya demi mencari sumber makanan, mencari cuaca yang lebih hangat, atau mencari tempat ideal untuk berkembang biak.
Migrasi burung adalah fenomena yang umum terjadi.
Namun, migrasi burung dari China dan Rusia beberapa waktu lalu, menyita perhatian masyarakat lantaran mereka mereka singgah di Tulungagung dan Trenggalek, Jawa Timur.
Hal ini terungkap saat kegiatan pengamatan burung yang diberi nama Tulungagung Bird Walk.
Pengamatan itu dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Kediri bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Himalaya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Selasa (13/1/2026).
Mereka melakukan pengamatan di persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo.
“Pengamatan burung ini untuk memperkenalkan jenis-jenis burung yang ada di Tulungagung. Kali ini burung migrasi karena saat ini masih musim migrasi,” kata Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra.
Dalam pengamatan ini, ditemukan tujuh jenis burung yang berasal dari Rusia dan China.
Ahmad menuturkan, burung tersebut bermigrasi karena di tempatnya berkembang biak sedang musim dingin. Sehingga mereka mencari makan di daerah tropis seperti Indonesia sampai Australia.
“Mereka datang mulai sekitar bulan September. Nanti sekitar Maret akan balik ke daerah asalnya untuk berkembang biak,” ungkap dia.
Burung Rusia dan China yang singgah di Tulungagung
Adapun tujuh jenis burung tersebut, yakni:
- Trinil pantai (Actitis hypoleuscos)
- Trinil semak (Tringa glareola)
- Kicuit kerbau (Motacilla flava)
- Cerek kernyut (Pluvialis fulva)
- Cerek kalung Kecil (Charadrius dubius)
- Terik asia (Glareola maldivarum)
- Burung layang-layang Asia (Hirundo rustica).
Menurut Ahmad, migrasi burung dari belahan bumi lain ini cenderung tetap dari tahun ke tahun.
Burung Rusia yang singgah di Trenggalek
Burung lain dari Rusia juga ditemukan di Kabupaten Trenggalek, yaitu gajahan pengala (Numenius Phaeopus).
Burung yang bermigrasi dari wilayah subartik ini terpantau singgah di kawasan Hutan Magrove Pantai Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo.
Keberadaan burung tersebut teridentifikasi oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur saat melakukan pemantauan burung migran.
Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia Putra, menjelaskan bahwa sejumlah daerah di Jawa Timur memang menjadi lokasi persinggahan burung migrasi, seperti Kabupaten Tulungagung dan Kediri.
Namun, jenis burung yang ditemukan di Trenggalek berbeda.
"Di Tulungagung dan Kediri kami menemukan burung trinil yang singgah di area persawahan. Sementara di Trenggalek justru kami menemukan jenis yang berbeda, yakni gajahan pengala yang berada di kawasan mangrove Pantai Cengkrong," ujar David, Jumat (23/1/2026).
Di lokasi yang sama, BBKSDA juga menemukan trinil pantai, yang jenisnya serupa dengan yang dijumpai di Tulungagung dan Kediri.
David menjelaskan, gajahan pengala dan trinil pantai berasal dari wilayah Rusia dan sekitarnya.
Alasan burung Rusia dan China migrasi ke Indonesia
Burung-burung tersebut bermigrasi ke daerah tropis sekitar bulan Oktober hingga Maret untuk bertahan hidup, sebelum kembali ke habitat asalnya untuk berkembang biak.
"Tujuan mereka ke Indonesia, termasuk Trenggalek, adalah untuk mencari makan. Saat musim dingin di daerah asal, sumber makanan sangat terbatas sehingga mereka berpindah ke wilayah tropis," jelasnya.
David memastikan kehadiran burung migran tidak mengganggu ekosistem lokal. Hal itu karena jenis pakan gajahan pengala berbeda dengan burung-burung mangrove setempat.
"Gajahan pengala memakan krustasea kecil dan cacing-cacing kecil, sementara burung lokal di Cengkrong tidak memakan jenis pakan tersebut," terangnya.
Selama singgah, burung-burung migran akan mengumpulkan energi dengan makan sebanyak mungkin, bahkan hingga berat tubuhnya bisa meningkat dua kali lipat.
Setelah itu, mereka akan kembali ke daerah asal untuk berkembang biak.
David mengimbau masyarakat agar tidak menangkap burung migran tersebut.
Karena burung migran tidak dapat dikembangbiakkan di daerah persinggahan, hanya bisa berkembang biak di habitat asalnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang