Promosi Pariwisata Nasional Gencar, tapi Infrastruktur Masih Tertinggal
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Komisi VII Novita Hardini, melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan pariwisata nasional dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Pariwisata di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta pada Rabu (21/01/2026).
Ia meminta Kementerian Pariwisata menggeser fokus dari promosi masif ke pembangunan infrastruktur dasar sebagai strategi inti (core strategy) pengembangan pariwisata Indonesia, Kamis (22/01/2026).
Menurut Novita, gencarnya promosi pariwisata Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri belum sejalan dengan kesiapan infrastruktur dan tata ruang destinasi wisata di dalam negeri.
“Promosi kita luar biasa gencar, sampai ke luar negeri. Tapi pertanyaannya, apakah infrastruktur kita sudah siap menerima wisatawan,” terang Novita Hardini melalui pesan singkat, Kamis (22/01/2026).
Ia mencontohkan promosi pariwisata Indonesia yang muncul di berbagai media luar negeri, termasuk di taksi taksi negara asing.
Menurutnya, strategi tersebut tidak bijaksana jika tidak diiringi dengan kesiapan akses jalan, sanitasi, dan konektivitas antar destinasi.
“Harusnya anggaran promosi itu dialihkan sebagian untuk membenahi akses jalan menuju destinasi, memperbaiki sanitasi, serta memastikan konektivitas transportasi publik antar lokasi wisata,” terang Novita.
Legislator perempuan satu-satunya dari daerah pemilihan Jawa Timur VII itu menilai promosi tanpa fondasi infrastruktur yang kuat justru berisiko menciptakan ekspektasi palsu bagi wisatawan.
“Promosi tanpa kesiapan infrastruktur itu seperti menjual janji. Kementerian Pariwisata seharusnya menyiapkan visi jangka panjang yang substansial, bukan hanya sibuk mengerjakan proyek event,” terang Novita.
Selain itu, ia juga menyoroti lemahnya implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dalam pembangunan pariwisata. Tanpa tata ruang yang jelas, pemerataan destinasi wisata dinilai mustahil tercapai.
“Yang terjadi justru overtourism di satu titik dan underutilization di titik lain. Alam rusak karena eksploitasi berlebihan demi kepentingan wisata,” terang Novita.
Novita menilai Kementerian Pariwisata belum cukup kuat memastikan pembangunan destinasi berjalan seiring dengan tata ruang ekologis.
Ia juga mengkritik minimnya koordinasi lintas kementerian, terutama dengan Kementerian PUPR, Perhubungan, KLHK, dan BUMN, dalam pembangunan fisik penunjang pariwisata.
“Pariwisata tidak bisa hanya bicara event dan promosi. Pariwisata harus berani memikirkan grand design infrastruktur 10 tahun ke depan. Kalau tidak, pariwisata Indonesia akan tenggelam,” terang Novita.
Selain infrastruktur, Novita menyinggung lemahnya pendekatan pencegahan dalam pengelolaan lingkungan kawasan wisata. Menurutnya, banyak bencana di destinasi wisata terjadi karena negara terlambat bertindak.
“Kita sering baru bergerak setelah bencana terjadi. Ironisnya, negara gurun di Timur Tengah justru lebih serius menjaga lingkungannya dibanding negara kita yang kaya alam,” ujar Novita.
Juga ditegaskan, pentingnya program preventif dalam menjaga kelestarian alam, bukan sekadar penanganan darurat setelah kerusakan terjadi.
Novita mendorong Kementerian Pariwisata memiliki visi jangka panjang agar Indonesia mampu menjadi global hub tourism, seperti negara-negara Timur Tengah yang konsisten membangun industri pariwisata berkelanjutan.
Menurut dia, pengembangan pariwisata nasional harus berbasis pada sistem tata ruang ekologis dan zonasi yang jelas, termasuk pengaturan batas harga minimum dan maksimum produk UMKM di sekitar kawasan wisata.
“Indonesia punya peluang besar menjadi global hub tourism. Ada wisatawan pencinta alam, budaya, hingga bisnis. Preferensi itu harus menjadi dasar grand design zonasi wisata berbasis pengalaman, bukan sekadar proyek event dan branding,” kata Novita Hardini.
Novita menegaskan, pariwisata berkelanjutan bukan sekadar jargon, melainkan pilihan strategis agar Indonesia tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga dihormati sebagai destinasi kelas dunia.
“Pariwisata harus dibangun dengan visi jangka panjang, bukan sekadar promosi. Kalau fondasinya kuat, branding akan datang dengan sendirinya,” terang Novita.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang