Astronot yang Kembali ke Bumi Alami Perubahan Otak, Jadi seperti Apa?

misi luar angkasa, Stasiun Luar Angkasa, astronot, Astronot yang Kembali ke Bumi Alami Perubahan Otak, Jadi seperti Apa?

Astronot yang pulang ke Bumi sehabis menjalankan misi di luar angkasa ternyata akan mengalami perubahan otak yang bertahan cukup lama.

Diketahui, misi luar angkasa, termasuk penelitian di Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS, akan berlangsung dalam hitungan bulan atau tahun.

Seperti yang dijalani Crew-11 NASA, yang dikirim ke ISS pada Agustus 2025 dan direncanakan akan pulang ke Bumi pada Februari 2026.

Namun sayang, jadwal kepulangan Crew-11 harus dipercepat karena kondisi medis salah satu awak.

Dilansir dari , Kamis (15/1/2026), empat astronot Crew-11 tiba kembali di Bumi pada Kamis dini hari waktu setempat setelah NASA mempersingkat misi mereka.

Mereka mendarat di laut (splash down) di lepas pantai California.

Lalu, perubahan otak seperti apa yang dialami astronot?

Perubahan otak astronot

Menghabiskan waktu di lingkungan tanpa bobot atau mikrogravitasi, ternyata dapat menimbulkan sejumlah dampak dramatis pada tubuh manusia.

Setelah berada di luar angkasa bahkan hanya selama beberapa pekan, astronot dapat mengalami perubahan yang terukur pada bentuk otaknya.

Pada misi luar angkasa yang lebih lama, perubahan tersebut dapat bertahan setidaknya hingga enam bulan, dilansir dari laman Science Alert, Jumat (16/1/2026).

Perubahan ini memang sangat halus, hanya beberapa milimeter, namun paling kuat terjadi pada wilayah otak yang berkaitan dengan keseimbangan, propriosepsi (kesadaran posisi tubuh), dan kontrol sensorimotor.

Hal inilah yang diduga menjadi penyebab sebagian astronot mengalami kesulitan berkepanjangan dalam memulihkan keseimbangan saat kembali ke gravitasi Bumi.

“Kami menunjukkan adanya perubahan posisi otak secara menyeluruh di dalam rongga tengkorak setelah penerbangan luar angkasa maupun lingkungan analog,” tulis tim peneliti yang dipimpin fisiolog Rachael Seidler dari University of Florida.

“Temuan ini penting untuk memahami dampak penerbangan luar angkasa terhadap otak dan perilaku manusia,” sambungnya.

Memengaruhi cara otak duduk di tengkorak

misi luar angkasa, Stasiun Luar Angkasa, astronot, Astronot yang Kembali ke Bumi Alami Perubahan Otak, Jadi seperti Apa?

Ilustrasi astronot di luar angkasa. Otak astronot mengalami perubahan setelah berada di zona tanpa gravitasi.

Saat berada di luar angkasa, jaringan tubuh astronot cenderung mengalami pergeseran. Tanpa pengaruh gravitasi, cairan tubuh akan terdistribusi lebih merata. Hal ini tidak serta-merta berbahaya, tetapi memengaruhi cara otak "duduk" di dalam tengkorak.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pusat massa otak astronot bergeser ke arah atas di dalam tengkorak setelah penerbangan luar angkasa, dibandingkan dengan kondisi sebelum terbang.

Petunjuk lain datang dari studi tahun 2015 terhadap orang-orang yang harus berbaring lama di tempat tidur miring dengan kepala mengarah ke bawah. Ini adalah metode di Bumi untuk meniru redistribusi cairan akibat mikrogravitasi.

Studi itu menemukan, perubahan bukan hanya pada pusat massa otak, tetapi juga pada volume beberapa wilayah otak.

Seidler dan timnya kemudian ingin mengukur secara lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi pada otak astronott selama berada di luar angkasa.

Penelitian ini melibatkan 26 astronot, 15 orang yang dipindai otaknya sebelum dan sesudah penerbangan sebagai bagian dari studi ini, serta 11 orang lainnya yang datanya diambil dari penelitian terdahulu.

Analisis juga mencakup data 24 peserta studi bed-tilt selama 60 hari yang dilakukan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA).

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa selama penerbangan luar angkasa, otak bergeser ke atas dan ke belakang, serta sedikit miring ke belakang, sebuah pergeseran kecil namun konsisten dengan temuan sebelumnya.

Namun, perubahan tidak terjadi secara seragam. Berbagai bagian otak bergerak ke arah yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa dijelaskan hanya sebagai pergeseran seluruh otak. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk otak itu sendiri mengalami perubahan.

Perubahan paling nyata terlihat pada misi luar angkasa berdurasi panjang. Pada astronot yang menghabiskan satu tahun di luar angkasa, perubahan bentuk otak bisa mencapai dua hingga tiga milimeter.

Data dari studi bed-tilt turut menguatkan temuan ini. Rongga berisi cairan di otak yang disebut ventrikel juga terlihat bergeser ke atas dalam kondisi mikrogravitasi maupun analog mikrogravitasi, mengindikasikan bahwa redistribusi cairan berperan besar dalam perubahan tersebut.

Apakah memengaruhi kecerdasan?

Ilmuwan mengungap bahwa perubahan ini tidak berkaitan dengan kepribadian, kecerdasan, atau fungsi kognitif.

Dampak terbesar justru terjadi pada wilayah otak yang berperan dalam membantu tubuh memahami posisi dan gerakan di ruang.

Perubahan paling signifikan ditemukan pada insula posterior, bagian otak yang memproses keseimbangan. Peneliti menemukan bahwa pergeseran terbesar di wilayah ini berkaitan dengan keseimbangan yang lebih buruk setelah astronot kembali ke Bumi.

Para astronot sering melaporkan kesulitan menjaga stabilitas tubuh selama berhari-hari hingga berminggu-minggu setelah mendarat, dengan pemulihan sensorimotor yang lebih halus dapat berlanjut selama berbulan-bulan.

Jika perubahan bentuk otak berperan dalam proses pemulihan ini, temuan tersebut dapat membantu ilmuwan merancang program rehabilitasi yang lebih efektif untuk mengembalikan tubuh astronot ke kondisi normal di Bumi.

“Penelitian ini memperdalam pemahaman kami tentang perubahan neuroanatomi akibat mikrogravitasi dan memberikan target kuantitatif untuk mengembangkan intervensi serta mengoptimalkan strategi pemulihan pascapenerbangan demi melindungi kesehatan astronot dalam misi eksplorasi luar angkasa di masa depan,” tulis para peneliti.

“Dampak perubahan posisi dan deformasi otak terkait penerbangan luar angkasa terhadap kesehatan dan performa manusia masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk membuka jalan menuju eksplorasi luar angkasa yang lebih aman.”

Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang