Rabiot Bongkar Sosok Modric: Usianya 40 Tahun tapi Semangatnya seperti Anak Kecil
Adrien Rabiot tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Luka Modric. Gelandang Prancis itu mengaku “terpesona” melihat semangat sang legenda Kroasia yang tetap membara meski sudah berusia 40 tahun.
Sejak tiba di AC Milan, Modric langsung menjadi poros permainan Rossoneri, bahkan disebut Rabiot sebagai figur yang mengangkat standar tim secara instan.
Kepindahan Modric dari Real Madrid ke AC Milan menjadi salah satu drama terbesar bursa musim panas. Namun pemain berusia 40 tahun itu sama sekali tidak membutuhkan waktu adaptasi. Ia langsung mengendalikan lini tengah Milan dengan gaya khasnya: cerdas, tenang, dan penuh kerja keras.
Bersama Massimiliano Allegri, Modric membuat Milan tampil lebih stabil dan dominan. Kehadirannya juga menutup lubang kepemimpinan yang sempat terasa setelah kepergian Sandro Tonali.
Rabiot, yang datang tak lama setelah Modric, melihat semua transformasi itu dari jarak dekat. “Modric luar biasa, setiap hari dia masih seperti anak kecil yang jatuh cinta pada bola”
Dalam wawancara dengan Gazzetta, Rabiot tak ragu memuji seniornya itu. “Dia orang yang sederhana dan mencintai sepakbola seperti anak kecil. Sejak hari pertama saya nyaman main dengannya. Kualitas, visi, kerja keras, semuanya lengkap. Dia membuat saya takjub setiap hari dengan semangatnya, bahkan di usia 40,” kata Rabiot.
Gelandang 30 tahun itu juga berharap bisa mempertahankan gairah bermain seperti Modric ketika kelak memasuki usia yang sama.
Rabiot juga menyinggung kemenangan 1-0 Milan atas Inter di Derby della Madonnina, laga yang ia mainkan penuh setelah pulih dari cedera.
“Ini laga spesial untuk Milan dan tifosi. Menang derby pertama saya di San Siro rasanya luar biasa. Tiga poin ini menambah percaya diri kami,” ujarnya.
Kendati sempat kesulitan akibat cedera betis, statistik Rabiot bersama Milan impresif: lima menang, satu imbang, dan hanya satu kebobolan dalam enam laga.
Ia menyebut perannya bukan sekadar soal gol atau assist. “Saya ingin mencetak gol, tapi tugas utama saya adalah berlari, bertarung, memberi saran, dan membawa pengalaman. Jika kami terus menang meski saya tak cetak gol, itu bukan masalah,” tegasnya.
Rabiot juga merasa kehadirannya memberikan rasa aman. “Saya banyak bicara di lapangan, terutama saat situasi sulit. Mungkin itu membuat rekan setim merasa lebih percaya diri,” katanya.
Milan yang kini berada di posisi kedua akan menghadapi Lazio di San Siro akhir pekan ini. Duel ini juga menjadi ajang reuni bagi Rabiot dengan mantan pelatihnya di Juventus, Maurizio Sarri.
“Akan menyenangkan bertemu lagi. Tahun itu aneh, saya jarang main di awal, tapi setelah Covid saya selalu jadi starter dan kami juara. Sarri pelatih hebat,” ujar Rabiot.
Milan berharap kombinasi kecerdasan Modric dan konsistensi Rabiot bisa terus menjaga momentum mereka dalam perebutan puncak klasemen Serie A.