Bobibos Siap Uji Coba Terbuka: Mobil Baru, 24 Jam, Lalu Bongkar Mesin
— Inovasi bahan bakar nabati Bobibos kembali menjadi sorotan setelah diklaim mampu dihasilkan dari jerami dan menawarkan alternatif energi baru berbasis limbah pertanian.
Produk ini disebut bukan sekadar bahan bakar, tetapi bagian dari ekosistem pemanfaatan jerami yang juga menghasilkan pakan ternak serta produk turunan lainnya.
Di tengah tingginya rasa penasaran publik, tim pengembang Bobibos menyatakan siap membuktikan performanya lewat uji coba terbuka.
Penggagas Bobibos, M Ikhlas Thamrin, menyatakan kesediaan untuk menjalani uji coba terbuka bersama media.
Ia bahkan menyebut pengujian bisa dilakukan menggunakan mobil baru hingga pembongkaran mesin setelah tes selesai.
Menurut Ikhlas, Bobibos tidak keberatan jika pengujian dilakukan secara ketat, terukur, dan melibatkan pihak independen seperti Kompas.com.
“Silakan kalau ada yang mau uji. Kita siap. Mobilnya baru, dua unit, bensin dan diesel. Diuji 24 jam, habis itu mesin dibongkar,” ujar Ikhlas kepada Kompas.com, Selasa (18/11/2025).
Ia menegaskan bahwa seluruh parameter pengujian dapat disepakati di awal agar hasilnya objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. “Kita transparan saja,” tambahnya.
Meski menyatakan siap diuji, Ikhlas mengatakan Bobibos belum dapat dipasarkan karena masih menunggu regulasi dari Kementerian ESDM.
Aktivitas pembakaran jerami di lahan pertanian dekat Perumahan Lavon Swan City, Wana Kerta, Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang pada Selasa (22/8/2023).
Bobibos, sebagai bahan bakar nabati berbasis jerami, tidak termasuk kategori Migas, melainkan Energi Baru Terbarukan (EBT). “Belum ada parameter biogasologi di regulasi. Ini yang kita tunggu dari ESDM,” kata Ikhlas.
Ia menyebut proses regulasi bisa memakan dua tahun jika mengikuti alur normal, namun dapat dipercepat menjadi sekitar delapan bulan.
Jerami dan Peluang Ekonomi Desa
Ikhlas menjelaskan bahwa jerami dipilih karena jumlahnya berlimpah dan sering kali tidak dimanfaatkan.
Dari satu hektar sawah, kata dia, bisa dihasilkan sekitar 9 ton jerami, sementara yang dipakai untuk pakan hanya setengahnya. “Sisanya sering dibakar. Dari proses kami, hasilnya justru bisa jadi pakan juga—untuk sapi, ayam, sampai ikan,” katanya.
Isu ini sejalan dengan pandangan Dedi Mulyadi (KDM) yang kerap mendorong pemanfaatan jerami sebagai sumber ekonomi baru bagi desa.
Pemanfaatan jerami sebagai energi disebut dapat menjadi alternatif pendapatan tambahan bagi petani.
Komentar BRIN: Potensial, tetapi Perlu Uji Berlapis
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menilai bahwa secara teori jerami memang dapat dikonversi menjadi bahan bakar.
BRIN pun pernah melakukan riset serupa pada 2015–2016, meski masih skala laboratorium dan mengalami kendala teknis. “Secara teori, jerami memang bisa dikonversi menjadi bahan bakar. Kami juga pernah meneliti pemanfaatannya menjadi etanol, tetapi tantangannya cukup besar, mulai dari rendemen yang rendah hingga kebutuhan teknologi pre-treatment yang masih mahal,” ujar Cuk. “Setelah menjadi bahan bakar, produk tersebut juga harus memenuhi standar nasional maupun internasional dan diuji langsung di engine,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa BRIN siap mendampingi proses verifikasi dan validasi apabila data teknis yang lengkap dapat disampaikan.
Menunggu Pembuktian Lapangan
Dengan klaim performa yang cukup besar, kesiapan Bobibos menjalani uji coba terbuka menjadi langkah penting untuk membuktikan efektivitas bahan bakar berbasis jerami tersebut.
Namun, verifikasi ilmiah dan regulasi tetap menjadi tahap yang wajib dilalui sebelum dapat beredar secara komersial.
Ikhlas menegaskan, pihaknya terbuka kapan saja jika media ingin melakukan uji bersama. “Kita siap ditantang,” ujarnya.
Mitos atau Fakta
Mulyadi nilai inovasi energi alternatif seperti Bobibos bisa bantu kurangi impor BBM dan dorong kemandirian energi nasional.
Fenomena Bobibos, bahan bakar alternatif berbasis limbah pertanian yang belakangan menarik perhatian publik, terus menimbulkan rasa penasaran.
Salah satu klaim yang paling menyita perhatian adalah pernyataan penemunya bahwa jerami dapat diolah menjadi bahan bakar untuk kendaraan bensin maupun diesel, dengan perbedaan hasil yang disebut bergantung pada “serum” khusus yang formulanya masih dirahasiakan.
Klaim ambisius itu kemudian memicu pertanyaan mengenai kelayakan teknologi yang digunakan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cuk Supriyadi Ali Nandar, memberikan penjelasan dari sisi ilmiah.
Cuk mengatakan bahwa penelitian terkait pemanfaatan jerami sebagai bahan baku energi memang memiliki dasar ilmiah tertentu.
BRIN sendiri saat ini tengah meneliti proses konversi biomassa menjadi biohidrokarbon, baik yang menyerupai bensin (gasoline) maupun solar (diesel).
Bobibos menargetkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dapat diakses seluruh masyarakat melalui BosMini, SPBU, dan kerja sama industri.
“Di BRIN sedang melaksanakan riset terkait pemanfaatan biomasa menjadi biohidrokarbon, baik itu gasoline maupun diesel,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (19/11/2025).
Namun, ia menegaskan, tidak semua jalur konversi jerami siap diterapkan. Salah satu rute yang dikenal adalah mengolah jerami menjadi etanol melalui fermentasi, memanfaatkan mikroorganisme atau enzim.
Tetapi tahapan ini panjang dan teknologinya belum matang untuk dikembangkan hingga tahap menghasilkan biohidrokarbon siap pakai.
Bobibos, bahan bakar dari tanaman.
“Jalur dari jerami dibuat etanol melalui fermentasi menuju biohidrokarbon belum kami pertimbangkan karena tahapan yang panjang dan kami menilai secara teknologi belum matang,” katanya.
Cuk menambahkan bahwa BRIN belum dapat memberikan penilaian lebih perinci mengenai metode yang diklaim Bobibos karena tidak ada informasi teknis yang disampaikan secara resmi.
“Karena kami belum jelas mengetahui secara pasti proses yang dipilih oleh Bobibos, maka kami belum dapat berkomentar lebih detail,” katanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.