Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Beli Mobil Baru di GJAW 2025
GJAW 2025 sebentar lagi akan digelar. Pameran tersebut bakal berlangsung di ICE BSD, Tangerang pad 21-30 November.
Sejumlah mobil baru digadang-gadang bakal melantai di sana. Ambil contoh Toyota Veloz Hybrid sampai Changan Deepal S07.
Masyarakat pun disarankan jangan asal, dalam memutuskan untuk memboyong kendaraan roda empat anyar.
"Agar keputusan Anda tetap aman bagi arus kas rumah tangga dan tidak berujung pada kredit macet, titik berangkatnya adalah kondisi ekonomi serta perilaku pasar saat ini," ungkap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.

Josua mengatakan bahwa, pengunjung GJAW 2025 wajib menetapkan batas kemampuan sebelum mengunjungi both Toyota, Daihatsu hingga BYD.
Gunakan patokan sederhana, seperti total cicilan utang tetap (termasuk kredit mobil baru). Idealnya tidak melebihi 25 persen penghasilan bersih bulanan.
Maksimal 1/3 bila penghasilan stabil dan cadangan kas kuat. Uang muka yang sehat berada di kisaran 30 persen sampai 40 persen harga on the road.
Ia juga menyarankan masyarakat memilih tenor cicilan empat hingga lima tahun. Batas tersebut membuat risiko nilai sisa dan beban bunga tetap terkendali.
"Sekaligus memberi ruang napas bila biaya hidup naik atau penghasilan turun," lanjut Josua
Kedua, pengunjung GJAW 2025 harus menghitung biaya total kepemilikan. Jadi bukan hanya cicilan kendaraan saja.
Selain angsuran, perhitungkan asuransi komprehensif sekitar dua sampai tiga persen dari harga mobil per tahun, pajak kendaraan, servis berkala, ban, aki, parkir serta tol.
Selain itu Anda harus melihat arah suku bunga dan jangan terbuai angka promosi, ketika ingin memiliki mobil baru.
"Bank Indonesia memang sudah menurunkan suku bunga acuan dibanding tahun lalu. Tetapi transmisi ke suku bungan kredit ritel berlangsung bertahap," Josua menambahkan.
Berarti tawaran bunga rendah di pameran perlu ditanya detailnya. Mulai dari bersifat efektif atau flat, biaya provisi, biaya administrasi, asuransi kredit maupun penalti pelunasan dipercepat.
Mintalah simulasi tertulis untuk total biaya kredit sampai lunas, bukan hanya besaran cicilan bunga pertama.

"Di pameran kerap muncul skema angsuran bertahap yang ringan di depan, namun menanjak di akhir tenor," pungkas Josua.
Menurut Josua, skema tersebut semacam menuntut disiplin kas yang lebih tinggi, ketika memasuki tahun ketiga atau keempat.
Terakhir pilih mobil dengan kacamata kegunaan dan nilai jual kembali. Bukan semata tertarik sama promosi yang diberikan oleh tenaga penjual.
"Di rentang harga di bawah Rp 500 jutaan, pasar Indonesia masih didominasi model serbaguna keluarga. Sehingga penawaran diskon terbesar sering berada di segmen ini," Josua menutup perkataannya.