Eks Sekjen FAM: Dana Gugat ke CAS Lebih Baik Dipakai untuk Pembinaan
Eks Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM), Datuk Seri Azzuddin Ahmad, menilai langkah membawa kasus pemalsuan dokumen pemain naturalisasi ke Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS) hanya akan membuang dana besar
Datuk Seri Azzuddin Ahmad menegaskan bahwa dana besar yang diperlukan untuk membawa kasus pemalsuan dokumen tujuh pemain ke Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS) sebaiknya dialihkan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat bagi sepak bola Malaysia.
Azzuddin menyebut, langkah hukum tersebut akan menelan biaya hingga jutaan ringgit, sehingga lebih baik dana itu digunakan untuk pembangunan sepak bola akar rumput serta menyelesaikan tunggakan gaji pemain.
“Saya sangat setuju. Kalau tidak salah, proses itu akan menelan biaya hingga jutaan ringgit. Alangkah baiknya jika dana sebesar itu digunakan untuk pengembangan sepak bola di tingkat akar rumput,” ujar Azzuddin seperti dikutip dari Arena Metro.
“Bahkan, kalau ada pihak yang berkenan membantu, lebih baik uang itu dipakai untuk melunasi tunggakan gaji para pemain kita."
"Itu jauh lebih bermanfaat bagi pemain lokal dan sepak bola nasional daripada membuang waktu dan menghamburkan uang ke CAS,” tambahnya.
Biaya ke CAS Bisa Capai Rp4 Miliar
Berdasarkan laporan Arena Metro tanggal 22 Oktober lalu, FAM diperkirakan membutuhkan setidaknya 1 juta ringgit (sekitar Rp4 miliar) apabila tetap ingin membawa kasus tersebut ke CAS.
Perkiraan tersebut mencakup biaya pendaftaran banding, biaya pengacara, biaya saksi ahli, dan uang muka arbitrase, yang besarannya bisa lebih tinggi tergantung kompleksitas kasus.
Menurut pengacara olahraga Zhafri Aminurashid, struktur biaya dalam setiap kategori berbeda-beda, dan total pengeluaran dapat mencapai sekitar 1 juta ringgit.
Pemain naturalisasi Timnas Malaysia, Hector Hevel (nomor 13), merayakan gol bersama rekan-rekannya pada laga Kualifikasi Piala Asia 2027 kontra Nepal di Stadion Sultan Ibrahim di Johor pada 25 Maret 2025.
Azzuddin menegaskan, FAM seharusnya fokus pada perbaikan internal, termasuk pembenahan sistem tata kelola dan perlindungan terhadap hak-hak pemain, agar masalah serupa tidak kembali mencoreng nama sepak bola Malaysia di tingkat internasional.
“Dalam situasi sekarang, yang terpenting adalah melakukan pembenahan dari dalam. Kita perlu meningkatkan efisiensi administrasi dan memastikan semua urusan berjalan dengan transparan agar nama baik sepak bola negara tidak lagi tercemar di tingkat internasional,” ucapnya.
FIFA Tolak Banding FAM, Denda Capai Rp7,2 Miliar
Sebelumnya, Komite Banding FIFA menolak permohonan banding FAM terkait kasus pemalsuan dokumen tujuh pemain naturalisasi Malaysia.
Keputusan tersebut mempertahankan hukuman yang dijatuhkan oleh Komite Disiplin FIFA pada akhir September lalu.
Tujuh pemain tersebut dijatuhi larangan bermain selama 12 bulan dan masing-masing dikenai denda 2.000 franc Swiss (sekitar Rp41 juta).
Sementara itu, FAM sendiri diwajibkan membayar denda sebesar 350.000 franc Swiss (sekitar Rp7,2 miliar).
Kendati demikian, FAM dikabarkan masih mempertimbangkan langkah hukum lebih lanjut dengan membawa perkara tersebut ke CAS dalam waktu dekat.
Langkah ini menjadi ujian baru bagi FAM di tengah sorotan publik dan desakan untuk memulihkan integritas serta kredibilitas sepak bola nasional Malaysia.
Satu-satunya harapan bagi FAM sekarang adalah melalui CAS tetapi banyak yang mengatakan bahwa langkah itu juga hampir pasti gugur dan hanya terbuka sebagai formalitas legal dalam kasus seperti ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.