Saham Apple Catat Rekor Tertinggi, Efek iPhone 17?
- Harga saham Apple melonjak nyaris 4 persen ke level 262,24 dollar AS (Rp 4,3 juta) per lembar pada 20 Oktober 2025.
- Harga saham ini menjadi rekor tertinggi tahun ini, setelah performa saham Apple sempat anjlok hingga 30 persen pada April lalu.
- Lonjakan saham Apple diyakini dipicu larisnya iPhone 17 Series di pasar AS dan China. Dalam 10 hari pertama.
— Harga saham Apple meroket dalam perdagangan saham yang ditutup pada Senin (20/10/2025) waktu Amerika Serikat.
Harga saham raksasa teknologi ini naik nyaris 4 persen hingga mencapai 262,24 dollar AS (sekitar Rp 4,3 juta) per lembar.
Nominal ini menjadi rekor harga saham tertinggi Apple untuk tahun 2025, setelah mencapai 258,10 dollar AS (sekitar Rp 4,2 juta) per lembar pada Desember 2024 lalu.
Sebelum rekor terbaru tercapai, performa saham Apple sepanjang tahun 2025 dinilai buruk. Apalagi nilainya terjun bebas hingga 30 persen pada April 2025, menjadi sekitar 172,42 dollar AS (Rp 2,8 juta) per lembar.
Namun sejak saat itu, performa Apple merangkak hingga lebih dari 50 persen dan berangsur pulih. Bahkan, harga saham bulan September 2025, hampir sama seperti akhir tahun lalu, yakni saat mencatat rekor tertinggi sebelumnya.
Berkat rekor saham Apple kali ini, perusahaan jasa keuangan Loop Capital menganjurkan orang-orang untuk membelinya, dari semula menyarankan untuk "hold" atau menunda pembelian.
"Kita sekarang berada di tahap awal siklus adopsi Apple yang sudah lama dinantikan. Kombinasi siklus pembaruan dan permintaan yang dipicu oleh siklus desain baru," kata analis Loop Capital, Ananda Baruah.
Ia juga memproyeksikan bahwa harga saham Apple akan terus meroket hingga 315 dollar AS (sekitar Rp 5,2 juta), naik sekitar 20 persen dari rekornya saat ini, dihimpun KompasTekno dari Bloomberg, Rabu (22/10/2025).
Apple belum memberikan penjelasan terkait pergerakan saham miliknya ini. Namun faktor pendorongnya kemungkinan terungkap dalam paparan pendapatan kuartalan Apple yang akan diungkapkan pada pekan depan.
Dipicu larisnya iPhone 17?
iPhone 17 series resmi dijual perdana di Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, mulai hari ini, Jumat (19/9/2025).
Penjualan iPhone 17 yang laris manis, diyakini merupakan pemicunya. Sebab, baru-baru ini firma pasar Counterpoint melaporkan penjualan awal iPhone 17 series di AS dan China cukup moncer hingga melampaui penjualan iPhone 16.
Lebih spesifik, iPhone 17 terjual 14 persen lebih banyak dibanding pendahulunya, iPhone 16, khususnya selama periode 10 hari pertama penjualan di China dan AS.
Counterpoint tidak merinci volume atau persentase penjualan untuk setiap model di AS dan China secara terpisah. Yang jelas, pertumbuhan penjualan iPhone 17 "reguler" naik 31 persen di kedua negara tersebut, sementara iPhone Pro/Max naik 12 persen.
Pertumbuhan itu membuat iPhone 17 Pro/Pro Max menyumbang 75 persen terhadap total penjualan keseluruhan model iPhone 17 series. Persentase kontribusinya sedikit lebih rendah dibanding iPhone 16 Pro/Pro Max pada tahun lalu sebesar 76 persen.
Jadi, walaupun total penjualan awal iPhone 17 Pro/Pro Max lebih tinggi dari pendahulunya, kontribusinya kurang lebih mirip dengan pendahulunya. Hal ini dikarenakan penjualan model iPhone 17 non Pro juga naik signifikan.
Performa penjualan iPhone 17 Series di China dan AS naik dibanding iPhone 16 Series tahun lalu, berdasarkan laporan Counterpoint Research.
Kedua negara itu menjadi pasar penting bagi Apple karena AS dan China menjadi dua pasar utama yang menyumbang sebagian besar penjualan iPhone secara global.
Amerika Serikat menyumbang sekitar 62 persen dari total pengiriman iPhone pada kuartal IV-2023. Negeri Paman Sam ini juga merupakan rumah bagi fans Apple atau disebut Apple fanboy, di mana lebih dari 155 juta pengguna iPhone aktif pada tahun 2024.
Sementara di China, 38,5 juta iPhone terjual pada tahun 2024. Nama China juga disebut hingga 15 kali dalam paparan pendapatan Apple kuartal III-2025, menunjukkan betapa pentingnya pasar ini.
Selain AS dan China, pasar lainnya yang kontribusi besar bagi iPhone secara global yaitu India dan Eropa, dilansir dari Accio.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.