Hentakan Kaki Ainun, Satu-satunya Cara B.J. Habibie Berhenti Kerja
Kisah cinta B.J. Habibie dan Hasri Ainun Besari selalu menyimpan cerita menyentuh.
Salah satunya datang dari pengakuan keluarga, yang menyebut Habibie hanya mau berhenti bekerja ketika mendengar hentakan kaki sang istri tercinta.
Satria Habibie, cucu Junus Effendi Habibie (adik B.J. Habibie), mengenang kebiasaan unik sang eyang yang selalu tenggelam dalam pekerjaannya hingga larut malam.
“Eyang (Habibie) itu kalau ditegur satu, dua, tiga kali masih kerja saja. Tapi kalau sudah dengar bunyi suara kaki Eyang Ainun, itu langsung berhenti,” kata Satria Habibie di Jakarta, Rabu (1/10/2025), dikutip dari Antaranews.
Habibie Terbiasa Kerja Hingga Dini Hari
Menurut Satria, Habibie adalah sosok pekerja keras yang sering lupa waktu, terutama saat menjabat sebagai Presiden RI ke-3.
Ia bisa menghabiskan waktu hingga pukul 3–4 dini hari di meja kerjanya.
Kebiasaan itu membuat Ainun khawatir kesehatan suaminya terganggu, terlebih di tengah kesibukan yang padat dan kedatangan tamu yang jumlahnya bisa mencapai ratusan delegasi.
Sebagai bentuk teguran halus, Ainun sering menghentakkan kakinya setelah mengantar obat. Isyarat itu cukup bagi Habibie untuk segera meninggalkan meja kerjanya.
“Kebiasaan-kebiasaan kecil itu yang membuat Eyang Rudi sangat merasa kehilangan ketika Eyang Ainun meninggal,” ujar Satria.
FOTO DOKUMENTASI. Menteri Negara Riset dan Teknologi Prof.Dr.Ing B.J. Habibie mengatakan kepada tamunya Menteri Perdagangan dan Industri Finlandia Esko Ollila, pesawat Helikopter dan pesawat CN235 hasil produksi pabrik Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dikerjakan putra-putri Indonesia dalam suatu pertemuan Rabu pagi di Gedung BPP Teknologi Jakarta. dalam pertemuan itu Menteri Ollila dan rombongan disertai Duta Besar Finlandia di Jakarta (26/1/1983).
Kehilangan yang Mendalam
Sejak kepergian Ainun pada 2010, Habibie sempat mengalami masa sulit.
Ia kerap berlari keluar rumah sambil memanggil-manggil istrinya.
“Eyang Rudi pun suka lari ke luar rumah, teriak, Ainun mana? karena Eyang Ainun suka membantu Eyang Rudi kan dengan segalanya dari dekat,” tambah Satria.
Untuk mengatasi duka mendalam itu, dokter memberikan tiga opsi: mencurahkan perasaan kepada keluarga, berkonsultasi, atau menulis.
“Karena Eyang Rudi tidak pernah suka merepotkan orang, jadi dia pilih untuk menulis. Hasil tulisan itulah yang akhirnya menjadi buku Habibie dan Ainun,” ungkapnya.
Cinta yang Tak Pernah Lekang
Kebersamaan Habibie dan Ainun menjadi salah satu kisah cinta paling legendaris di Indonesia.
Kisah ini kemudian diabadikan dalam film, lagu, monumen, hingga makam bersebelahan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Bagi Habibie, hentakan kaki Ainun bukan sekadar teguran, melainkan tanda kasih yang selalu ia rindukan sepanjang hidupnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "6 Fakta Kisah Cinta Sejati Habibie dan Ainun, Awal Mula Berteman, Menikah hingga Makam Berdampingan".