Logo Baru "G" Google Resmi Dikenalkan, Jadi Identitas Produk dan Perusahaan
Perusahaan teknologi Google resmi mengenalkan desain logo baru perusahaan, yang dilambangkan dengan huruf "G" dalam kelir warna-warni. Pembaruan ini diumumkan melalui blog Google pada Senin (29/9/2025).
Ini merupakan perubahan pertama dalam satu dekade, sejak logo tersebut diperkenalkan pada 1 September 2015.
Sebelumnya, logo baru Google sudah muncul di layanan Search pada Mei 2025. Namun, baru pada September ini Google mengumumkan peluncuran logo baru dan memperluas penggunaannya ke berbagai layanan Google, seperti di aplikasi Android dan Gemini.
Secara umum, logo Google masih sama seperti sebelumnya, yakni huruf "G" yang dibalut dengan empat warna mencakup merah, kuning, hijau dan biru. Namun raksasa teknologi ini membuat tampilan logonya jadi lebih cerah dibanding sebelumnya.
Google juga menambahkan efek gradasi yang cukup smooth pada setiap lapisan warna. Perubahan tingkat kecerahan pada logo baru, kontras terlihat pada gradasi antara warna merah dan kuning atau kuning dengan hijau.
Di versi sebelumnya, tidak ada efek gradasi, sehingga garis pemisah antar warna logo tampak lebih kaku.
Kiri ke kanan: Perbandingan logo Google yang lama vs baru
Logo dengan gradasi ini juga ditetapkan sebagai logo Google, baik sebagai merek maupun perusahaan.
Menurut Google, pembaruan desain itu menggambarkan bagaimana pengguna berinteraksi lewat berbagai platform bikinan perusahaan.
"Pembaruan desain ini mencerminkan semua cara orang berinteraksi dengan produk Google di seluruh platform, aplikasi dan perangkat kami," kata Google.
"Google G yang baru kini mewakili seluruh Google, dan secara visual mencerminkan evolusi kami di era AI," lanjut perusahaan yang berbasis di Mountain View, California itu.
Google akan memasang logo barunya ke lebih banyak produk hingga layanan perusahaan dalam beberapa bulan mendatang, dihimpun KompasTekno dari blog Google, Selasa (30/9/2025).
ChomeOS dan Android bakal dilebur
Bukan pembaruan logo saja, Google juga telah menyipkan rencana lain yang lebih besar, yaitu menggabungkan ChromeOS dengan Android mulai tahun depan.
Penggabungan itu berarti bahwa laptop Chromebook yang selama ini berjalan dengan ChromeOS akan punya fondasi teknologi yang sama dengan Android, lengkap dengan integrasi AI Gemini.
Rick Osterloh, Senior Vice President Devices and Services Google, menjelaskan langkah ini di ajang Snapdragon Summit 2025 baru-baru ini.
Osterloh menyebut, selama ini, sistem yang Google bangun untuk PC berbeda dengan yang Google kembangkan di smartphone (Android).
"Sekarang, kami sedang menggabungkannya. Google membangun fondasi teknis yang sama untuk produk kami di PC dan desktop, membawa model Gemini, asisten AI, serta seluruh aplikasi dan komunitas pengembang Android ke ekosistem PC,” kata Osterloh.
Ilustrasi browser Chrome di Windows.
Hal senada juga diungkapkan Sameer Samat, kepala Android di Google. Menurut dia, ini adalah era baru di mana AI bisa bekerja mulus di berbagai perangkat, baik ponsel maupun komputer/PC.
CEO Qualcomm Cristiano Amon disebut sudah melihat versi awal dari sistem gabungan ChromeOS-Android ini. Ia mengaku terkesan.
“Saya sudah melihatnya, dan itu luar biasa. Ini benar-benar mewujudkan visi konvergensi mobile dan PC. Saya tidak sabar untuk segera memilikinya,” ujar bos Qualcomm.
Penggabungan ini bukan berarti ChromeOS akan hilang sepenuhnya.
Google menegaskan pengalaman Chromebook akan tetap ada, hanya saja mesin dasarnya berganti menggunakan Android. Jadi, antarmuka ChromeOS dengan kesederhanaan khasnya masih bisa dinikmati, tetapi di balik layar ia berbagi fondasi yang sama dengan Android.
Dengan begitu, pengguna bisa mendapatkan pengalaman yang lebih konsisten dan terintegrasi.
Misalnya, aplikasi dan layanan AI yang sebelumnya hanya tersedia di ponsel Android akan bisa berjalan mulus di Chromebook. Mulai dari mengedit dokumen dengan bantuan Gemini, membuat jadwal otomatis, hingga sinkronisasi lebih cerdas antara ponsel dan laptop.
Bagi pengguna, gabungan ini berarti lebih sedikit batasan antara laptop dan ponsel. Misalnya, aplikasi yang sebelumnya hanya tersedia di Android bisa berjalan di Chromebook dengan performa lebih baik.
Pengguna juga bisa merasakan fitur AI yang sama di semua perangkat, entah itu ketika menggunakan ponsel, tablet, atau laptop.
Bagi pengembang, platform yang terintegrasi membuka peluang untuk membuat aplikasi sekali, lalu berjalan lintas perangkat tanpa perlu banyak modifikasi, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CNet.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.