4 Persepsi Negatif Soal Ibu Menyusui di Tempat Umum, Gelisah hingga Harus Ditutup

ibu menyusui, breastfeeding, ibu menyusui di tempat umum, ibu menyusui di ruang publik, persepsi ibu menyusui, ibu menyusui anak, menyusui di tempat umum, menyusui anak di tempat umum, 4 Persepsi Negatif Soal Ibu Menyusui di Tempat Umum, Gelisah hingga Harus Ditutup, 1. Merasa tidak nyaman, 2. Membuat gelisah, 3. Seharusnya menyusui di tempat khusus, 4. Boleh menyusui, tapi harus ditutup

Ibu menyusui di ruang publik masih dianggap tabu, padahal menyusui di ruang publik sama dengan menyuapi anak makanan.

Dengan kata lain, menyusui adalah hal wajar dilakukan oleh seorang ibu kepada si kecil yang masih bayi.

“Untuk mendukung ibu untuk menyusui (di ruang publik), harus punya persepsi dulu. Persepsi idealnya adalah seseorang harus tahu dulu bahwa menyusui adalah perilaku alamiah yang harus didukung,” kata peneliti utama sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH di Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025).

Kendati demikian, tidak semua orang setuju dengan ibu yang menyusui di tempat umum. Bahkan, ada persepsi tentang perilaku ini yang tergolong sebagai red flag.

Persepsi negatif soal ibu menyusui di tempat umum

1. Merasa tidak nyaman

ibu menyusui, breastfeeding, ibu menyusui di tempat umum, ibu menyusui di ruang publik, persepsi ibu menyusui, ibu menyusui anak, menyusui di tempat umum, menyusui anak di tempat umum, 4 Persepsi Negatif Soal Ibu Menyusui di Tempat Umum, Gelisah hingga Harus Ditutup, 1. Merasa tidak nyaman, 2. Membuat gelisah, 3. Seharusnya menyusui di tempat khusus, 4. Boleh menyusui, tapi harus ditutup

Peneliti utama sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, di Restoran Beautika, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025).

Ternyata, perasaan tidak nyaman ketika melihat seorang ibu menyusui anaknya di tempat umum termasuk sebagai persepsi red flag.

Setidaknya, inilah yang dirasakan oleh 30 persen responden penelitian HCC bertajuk "Persepsi dan Dukungan pada Ibu Menyusui di Tempat Umum" yang dilakukan pada 4-5 Agustus lalu. Jumlah responden yang berpartisipasi dalam studi ini sebanyak 731 orang.

Ray mengatakan, untuk mendukung para ibu agar lebih leluasa dalam menyusui anaknya di tempat umum, seseorang harus memiliki persepsi yang positif.

“Harusnya individu punya indeks perilaku atau indeks persepsi yang positif sebelum mendukung (ibu menyusui di tempat umum),” tuturnya. 

Peneliti lain dari HCC, Bunga Pelangi, MKM, menyampaikan, ada 24 indikator persepsi yang mereka temukan saat melakukan studi tersebut.

Sebanyak 24 indikator tersebut terdiri dari 11 indikator persepsi positif dan 13 indikator persepsi negatif.

Indikator ini disebutkan oleh para responden dalam menanggapi berbagai skenario ibu menyusui di tempat umum, pabrik, perkantoran, taman, transportasi umum, tempat makan, hingga kafe.

“Ada beberapa persepsi yang mungkin muncul ketika seseorang melihat ibu menyusui dalam beberapa situasi tersebut,” kata Bunga.

Indikator persepsi positif mencakup inspiratif, bahagia, hangat, intimasi, alamiah atau natural, hal yang indah, hal yang sehat, hal yang praktis, penuh cinta, penuh perjuangan, dan membanggakan.

Sementara itu, indikator persepsi negatif mencakup memalukan, tidak nyaman, mengkhawatirkan, menjijikan, mengganggu, tidak sopan, perbuatan cabul, vulgar, menggairahkan, merumitkan, memusingkan, menyedihkan, dan melelahkan.

2. Membuat gelisah

ibu menyusui, breastfeeding, ibu menyusui di tempat umum, ibu menyusui di ruang publik, persepsi ibu menyusui, ibu menyusui anak, menyusui di tempat umum, menyusui anak di tempat umum, 4 Persepsi Negatif Soal Ibu Menyusui di Tempat Umum, Gelisah hingga Harus Ditutup, 1. Merasa tidak nyaman, 2. Membuat gelisah, 3. Seharusnya menyusui di tempat khusus, 4. Boleh menyusui, tapi harus ditutup

Meski alami, ibu menyusui di tempat umum masih menuai pro-kontra. Penelitian HCC menyampaikan persepsi red flag yang kerap dialami ibu menyusui.

“Persepsi red flag yang kedua adalah, ketika melihat ibu netein bayi di tempat umum, di KRL, kafe, taman, atau mal, itu (muncul persepsi), ‘Kok gue jadi gelisah ya’,” ucap Ray.

Namun, kegelisahan yang muncul saat melihat ibu menyusui di ruang publik bukanlah kegelisahan yang berkaitan dengan keamanan dan kesehatan ibu dan anak.

“Gelisahnya lebih ke terasa, maaf ya, agak risih. Itu red flag,” lanjut dia.

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 29,7 persen responden merasa gelisah saat melihat ibu menyusui di tempat umum.

3. Seharusnya menyusui di tempat khusus

ibu menyusui, breastfeeding, ibu menyusui di tempat umum, ibu menyusui di ruang publik, persepsi ibu menyusui, ibu menyusui anak, menyusui di tempat umum, menyusui anak di tempat umum, 4 Persepsi Negatif Soal Ibu Menyusui di Tempat Umum, Gelisah hingga Harus Ditutup, 1. Merasa tidak nyaman, 2. Membuat gelisah, 3. Seharusnya menyusui di tempat khusus, 4. Boleh menyusui, tapi harus ditutup

Meski alami, ibu menyusui di tempat umum masih menuai pro-kontra. Penelitian HCC menyampaikan persepsi red flag yang kerap dialami ibu menyusui.

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa teguran kepada seorang ibu untuk menyusui di tempat khusus alias ruang laktasi adalah sesuatu yang mulia, atau membantu.

Sebanyak 29 persen responden memiliki persepsi seperti itu. Nyatanya, "kewajiban” bagi ibu untuk menyusui di tempat khusus justru semakin menyulitkan mereka.

“Responden di penelitian ini mengatakan bahwa, ‘Elo tuh jangan nyusuin di sini, cari tempat’, ‘Ke tempat lain dong. Elo ke tempat khusus’. Itu kasarnya. Persepsi mereka tuh bahwa ibu menyusui harusnya di tempat khusus. Ini red flag yang ketiga,” jelas Ray.

Nyatanya, tidak semua ruang publik dilengkapi ruang laktasi. Bunga menambahkan, hal ini dapat membuat ibu menyusui kebingungan karena anak yang ingin menyusu harus segera disusui.

Anak yang rewel bisa membuat ibu semakin pusing dalam mencari tempat yang “tepat” untuk menyusui.

Padahal, anak yang lapar tidak punya waktu untuk menunggu sang ibu pergi dulu mencari ruang laktasi. Belum lagi jika ruang laktasi sudah ditemukan, tapi malah kurang nyaman untuk ibu dan anak karena panas atau bau apak.

“Tidak efektif untuk bisa menenangkan anak ketika butuh menyusui maka menyusui di tempat di mana saja dan kapan saja, itu menjadi sesuatu yang wajib untuk bisa dilakukan oleh ibu menyusui,” tutur Bunga.

4. Boleh menyusui, tapi harus ditutup

ibu menyusui, breastfeeding, ibu menyusui di tempat umum, ibu menyusui di ruang publik, persepsi ibu menyusui, ibu menyusui anak, menyusui di tempat umum, menyusui anak di tempat umum, 4 Persepsi Negatif Soal Ibu Menyusui di Tempat Umum, Gelisah hingga Harus Ditutup, 1. Merasa tidak nyaman, 2. Membuat gelisah, 3. Seharusnya menyusui di tempat khusus, 4. Boleh menyusui, tapi harus ditutup

Meski alami, ibu menyusui di tempat umum masih menuai pro-kontra. Penelitian HCC menyampaikan persepsi red flag yang kerap dialami ibu menyusui.

Sebanyak 50 persen responden sangat tidak setuju jika ibu tidak menggunakan penutup saat menyusui anak di ruang publik.

“Responden penelitian ini mengatakan, ‘Boleh nyusuin di mana saja, tapi mbok ya ditutup dong, pakai cover, pakai penutup’. Kenapa? Ini merujuk ke gambar-gambar stimulasi yang ditunjukkan, ada payudara,” jelas Ray.

Menurut dia, seharusnya tidak masalah bagi seorang ibu untuk mengeluarkan payudaranya di tempat umum dengan tujuan untuk menyusui anaknya.

“Kami bilang red flag karena persepsi itu menganggap, ibu mengeluarkan payudara untuk menyusui, bukan untuk tujuan lain, masih dianggap bukan perilaku alami. Padahal, secara alamiah, ini adalah perilaku yang sangat naluriah yang harus didukung,” ucap Ray.

Penutup seperti kain memang bisa digunakan oleh ibu ketika sedang menyusui di ruang publik. Namun, ini dapat membuat anak tidak nyaman karena pengap.

Ketika anak merasa tidak nyaman, risikonya adalah mereka bisa semakin rewel, atau bahkan menggigit puting ibu. Apabila lecet atau luka, pengeluaran ASI (air susu ibu) bisa bermasalah dan berujung pada mastitis.

Secara umum, ibu menyusui di publik ditolak

ibu menyusui, breastfeeding, ibu menyusui di tempat umum, ibu menyusui di ruang publik, persepsi ibu menyusui, ibu menyusui anak, menyusui di tempat umum, menyusui anak di tempat umum, 4 Persepsi Negatif Soal Ibu Menyusui di Tempat Umum, Gelisah hingga Harus Ditutup, 1. Merasa tidak nyaman, 2. Membuat gelisah, 3. Seharusnya menyusui di tempat khusus, 4. Boleh menyusui, tapi harus ditutup

Meski alami, ibu menyusui di tempat umum masih menuai pro-kontra. Penelitian HCC menyampaikan persepsi red flag yang kerap dialami ibu menyusui.

Menilik empat persepsi red flag tersebut, Ray menarik kesimpulan bahwa secara umum, persepsi orang Indonesia terkait ibu menyusui di ruang publik adalah kontra.

“Temuan kunci kami mengatakan, ternyata satu dari tiga orang Indonesia yang diwakili oleh responden penelitian ini, memiliki persepsi kontra atau cenderung menolak,” kata Ray.

“Mereka secara dominan melihat bahwa ibu menyusui di tempat umum itu (membuat) enggak nyaman,” sambung dia.

Metode dan demografi penelitian

Sebagai informasi, penelitian dilakukan dengan menggunakan metode social experiment berbasis daring melalui pendekatan kuantitatif dan potong lintang.

Dari 731 responden, 84 persen adalah responden perempuan dan 16 persen adalah responden laki-laki.

Dari total seluruh responden, 33 persen berusia kurang dari sama dengan 30 tahun, dan 67 persen berusia lebih dari 30 tahun. Lalu, 89 persen responden berstatus sudah menikah dan 11 persen responden belum menikah.

Tingkat pendidikan 60 persen responden adalah kurang dari SMA/sederajat, dan 40 persen sarjana atau lebih.

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!