Menginap di Alam Terbuka Harus Lebih Bertanggung Jawab, Begini Caranya
Pernah tidak, kamu memesan penginapan di tengah hutan atau pegunungan, lalu pulang dengan perasaan sedikit bersalah? Bukan karena liburannya tidak menyenangkan, tapi karena ada pertanyaan kecil yang tersisa di belakang kepala. Apakah kehadiran kita tadi justru membebani alam yang kita kagumi? Pertanyaan itu wajar. Dan semakin banyak orang mulai mengajukannya.
Tren menginap di alam terbuka terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Kabin di tengah hutan pinus, glamping dengan pemandangan bukit, hingga akomodasi tepi sungai bermunculan di mana-mana dan selalu habis dipesan. Orang makin ingin dekat dengan alam, dan itu sebenarnya sinyal yang bagus. Masalahnya, tidak semua properti yang tampak alami benar-benar dikelola dengan cara yang menjaga alam itu sendiri. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Estetika alam memang mudah dijual. Foto dengan latar pohon pinus dan kabut pagi selalu menarik perhatian. Tapi di balik tampilannya, ada pertanyaan yang jarang disorot. Bagaimana properti itu dibangun? Apakah konstruksinya merusak area resapan air? Apakah operasionalnya mengganggu satwa liar di sekitar kawasan? Apakah masyarakat yang tinggal di dekat lokasi ikut merasakan manfaatnya, atau justru terpinggirkan?
Tidak ada jawaban yang bisa dilihat hanya dari foto di halaman pemesanan.
Maka sebelum memesan, ada beberapa hal sederhana yang bisa mulai kamu perhatikan. Properti yang serius soal keberlanjutan biasanya terbuka soal bagaimana mereka beroperasi.
Mereka mempekerjakan warga lokal, bermitra dengan usaha kecil di sekitar lokasi, dan punya kebijakan jelas soal pengelolaan limbah serta perlindungan kawasan alam di sekitarnya. Desain bangunannya pun cenderung menyesuaikan diri dengan lanskap, bukan mengubahnya secara besar-besaran demi kenyamanan tamu.
Cara lain untuk mengenali properti yang benar-benar bertanggung jawab adalah melihat apakah mereka memiliki sertifikasi independen. Di dunia pariwisata berkelanjutan, ada beberapa lembaga internasional yang melakukan audit terhadap properti secara menyeluruh, mulai dari praktik lingkungan, perlindungan biodiversitas, hingga dampak sosial dan ekonomi terhadap komunitas sekitar. Sertifikasi dari lembaga seperti ini lebih bisa dipercaya dibanding klaim sepihak di brosur, karena prosesnya melibatkan penilaian yang terukur dan tidak memihak.
Salah satu standar yang mulai dikenal adalah Green Choice Sustainable Tourism Standard dari Control Union Indonesia, lembaga yang terakreditasi oleh Global Sustainable Tourism Council (GSTC). Baru-baru ini, Bobocabin Signature Sukawana di Bandung Barat menjadi properti pertama di Asia dan kedua di dunia yang berhasil meraih sertifikasi ini.
Pencapaian itu bukan datang dari klaim, melainkan dari proses audit independen yang menilai bagaimana properti tersebut menjaga kawasan hutan, mengelola area resapan air, mengendalikan aktivitas operasional agar tidak mengganggu flora dan fauna, sekaligus melibatkan masyarakat lokal dalam ekosistem bisnis mereka.
“Sejak awal, kami percaya bahwa pengalaman menginap berbasis alam juga perlu dibangun dengan pendekatan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas sekitar,” kata Indra Gunawan, Co-Founder dan CEO Bobobox, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 23 Mei 2026.
Kalimat itu mungkin terdengar seperti pernyataan korporat biasa. Tapi ketika didukung oleh sertifikasi internasional yang prosesnya ketat, artinya berbeda.
Sebagai wisatawan, kita tidak selalu harus memilih properti bersertifikat karena tidak semua yang dikelola dengan baik sudah memilikinya. Tapi kita bisa mulai dengan kebiasaan kecil. Baca deskripsi properti lebih teliti. Cari tahu apakah mereka menyebut keterlibatan komunitas lokal. Lihat apakah ada informasi soal pengelolaan lingkungan, bukan sekadar foto kabin yang estetik.
Pilihan akomodasi yang kamu buat hari ini, sekecil apapun, ikut membentuk arah industri pariwisata ke depan. Saat kita memilih penginapan yang dikelola dengan bertanggung jawab, kita ikut mendukung bahwa keindahan alam itu bisa dinikmati bukan hanya oleh kita hari ini, tapi oleh siapa pun yang datang setelah kita.