Rusia Gelar Parade Militer Hari Kemenangan Tanpa Pamer Tank dan Rudal, Apa Alasannya?

VIVA Militer: Parade militer Rusia.
VIVA Militer: Parade militer Rusia.

 Parade peringatan Hari Kemenangan Perang Dunia II tahunan yang digelar di Moskow 8-9 Mei 2026, dipastikan berlangsung dalam skala yang jauh lebih kecil dari biasanya. Perayaan tahunan yang selama ini menjadi ajang unjuk kekuatan militer Rusia untuk memperingati kemenangan atas Nazi Jerman digelar tanpa kehadiran kendaraan militer - yang pertama kalinya dalam hampir dua dekade.

Tidak ada tank-tank dan rudal yang dipamerkan pada parade tahunan kali ini. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang tekanan yang dihadapi industri pertahanan Rusia, di tengah ujian berat di medan perang melawan Ukraina, dan meningkatnya kekhawatiran keamanan di ibu kota.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagian analis menilai langkah tersebut berkaitan dengan upaya Kremlin mengurangi risiko gangguan dari Ukraina. Awal pekan ini, setelah sebuah drone menghantam gedung tinggi di dekat Kremlin, Moskow secara sepihak mengumumkan gencatan senjata dua hari selama akhir pekan.

"Prospek Ukraina menyerang parade 9 Mei, yang merupakan kunci bagi proyeksi kekuatan domestik dan propaganda Rusia, tidak terpikirkan oleh Putin," kata Juraj Macjin, analis kebijakan di Pusat Kebijakan Eropa.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada para pemimpin Eropa di Armenia bahwa Rusia "tidak mampu membeli peralatan militer — dan mereka khawatir drone mungkin akan terbang di atas Lapangan Merah,"

Kiev mengusulkan gencatan senjata terpisah mulai 6 Mei yang tidak terkait dengan perayaan militer. Namun sejak tanggal tersebut, Rusia tetap melancarkan serangan yang menewaskan sedikitnya 13 orang hanya dalam satu hari. Zelensky kemudian menyatakan di media sosial bahwa Kiev akan merespons dengan "sanksi jarak jauh," merujuk pada serangan jarak jauh Ukraina jauh di dalam wilayah Rusia.

Tekanan terhadap Moskow juga terlihat di garis depan. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyebut pasukan Rusia mundur sejauh 120 kilometer di Ukraina bulan lalu—yang pertama kali terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Di tengah situasi tersebut, kemampuan produksi militer Rusia turut menjadi sorotan. Laporan Dinas Intelijen Luar Negeri Estonia pada Februari mencatat industri pertahanan Rusia memang meningkatkan produksi secara signifikan sepanjang perang yang kini memasuki tahun kelima.

Pada 2025, produksi amunisi artileri Rusia disebut mencapai sekitar 7 juta peluru, mortir, dan roket, naik drastis dari sekitar satu juta pada 2022. Lonjakan ini terjadi setelah Rusia menghabiskan sebagian besar stok amunisi strategisnya dalam dua tahun pertama perang, yang sebelumnya diperkirakan berjumlah sekitar 20 juta butir sebelum invasi.

Namun peningkatan kuantitas itu tidak serta-merta diikuti inovasi teknologi. Menurut para pengamat, Rusia lebih banyak memodifikasi peralatan lama dibanding memproduksi sistem persenjataan baru. "Rusia tidak ingin menunjukkan kelemahan, terutama ketika mereka hanya memiliki sedikit peralatan baru untuk dipamerkan kepada dunia dan warga negaranya sendiri," kata Macjin.

Ia menjelaskan bahwa kekurangan tenaga kerja terampil, korupsi, minimnya usaha kecil dan menengah, serta sanksi internasional sangat membatasi kemampuan industri pertahanan Rusia untuk berinovasi. Akses terbatas terhadap teknologi Barat juga membuat Moskow kesulitan memproduksi pesawat tempur modern, tank generasi baru, dan kendaraan lapis baja canggih dalam jumlah besar.

Sebagian besar produksi kini bergantung pada modifikasi sistem era Soviet, terutama untuk tank, artileri beroda rantai, dan kendaraan tempur infanteri.

Dalam hal kendaraan lapis baja berat, "Rusia sebagian besar berfokus pada produksi model tahun 1980-an dan 1990-an yang sedikit ditingkatkan, seperti tank T-80 dan T-90, meskipun dalam jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan produksi Eropa," kata Macjin.

Meski demikian, Komisioner Pertahanan Andrius Kubilius berulang kali mengingatkan bahwa dalam beberapa kategori, produksi Rusia masih melampaui Eropa. Ia menyebut Rusia memproduksi sekitar 3.500 kendaraan infanteri per tahun, dibandingkan sekitar 500 unit di Uni Eropa. Untuk rudal balistik, Rusia memproduksi sekitar 900 unit tahun lalu, sementara produksi di Eropa nyaris tidak ada.

Ketergantungan Eropa pada aset Amerika Serikat masih tinggi, sementara alternatif domestik seperti Pendekatan Serangan Jarak Jauh Eropa (ELSA) masih dalam tahap pengembangan.

Terlepas dari keterbatasan tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin diperkirakan tetap berupaya menampilkan parade yang semeriah mungkin. Bagi Kremlin, peringatan kemenangan Perang Dunia II bukan sekadar seremoni, tetapi bagian penting dari politik memori dan legitimasi kekuasaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ideologi yang dipromosikan rezim mempertahankan Perang Dunia II sebagai bagian sentral dari politik memorinya," kata Rasmus Nilsson, pengajar politik pasca-Soviet di University College London.

Putin, yang selama ini memanfaatkan parade tersebut untuk memproyeksikan kekuatan militer dan kejayaan masa lalu Rusia, dinilai perlu menunjukkan bahwa ia masih mampu menyelenggarakan acara simbolis yang prestisius, meski di tengah tekanan perang dan keterbatasan produksi senjata. (Euractiv)