Jasa Usir Setan Laku Keras
Pastor Chad Ripperger dari Keuskupan Agung Denver menyatakan bahwa Gereja Katolik saat ini memiliki sekitar 150 imam di AS yang dapat melakukan pengusiran setan.
Pada 2020, hanya ada sekitar 20 imam yang terlatih dalam praktik tersebut, menandai peningkatan yang sangat besar yaitu 650 persen hanya dalam beberapa tahun.
Namun, Ripperger berpendapat bahwa fenomena tersebut mencerminkan peningkatan dosa manusia dan keterlibatan dalam okultisme, bukan peningkatan aktivitas setan.
“Setan-setan semakin kuat karena semakin banyak orang melakukan perbuatan jahat,” katanya, seperti dikutip dari situs Russia Today, Selasa, 31 Maret 2026.
Pendeta Dan Todd, seorang pengusir setan terlatih asal New Jersey, menjelaskan bahwa meskipun iblis atau setan ada di luar sana, namun, 99 persen kasus yang ditangani disebabkan oleh penyakit mental.
"Gangguan kejiwaan seperti skizofrenia dan gangguan identitas disosiatif seringkali dapat meniru kerasukan setan," jelas dia.
Lonjakan permintaan akan jasa usir setan telah menjadi begitu nyata sehingga Paus Leo XIV mengadakan pertemuan puncak para pengusir setan paling senior di dunia di Vatikan awal Maret 2026.
Lebih dari 300 ahli usir setan berkumpul tahun lalu untuk Konferensi Pengusir Setan Internasional ke-15, yang mencerminkan apa yang digambarkan oleh para peserta sebagai pelayanan internasional yang terkoordinasi dan berkembang.
Tren ini tidak hanya terbatas di AS. Di Rusia, pasar jasa usir setan baru-baru ini berkembang pesat hingga diperkirakan mencapai US$24 miliar per tahun, dengan warga Rusia menghabiskan uang untuk "dukun" dan peramal sebanyak untuk kebutuhan sehari-hari.
Gereja Ortodoks Rusia telah memperingatkan agar tidak melakukan atau mencari ritual semacam itu, menuntut agar Satanisme dilarang secara hukum serta iklan "layanan sihir okultisme." Tahun lalu, Mahkamah Agung Rusia secara resmi melarang 'Gerakan Satanis Internasional' sebagai organisasi ekstremis.