Grab Akuisisi Foodpanda Taiwan Rp10 Triliun, Ekspansi Global

Grab Akuisisi Foodpanda Taiwan Rp10 Triliun, Ekspansi Global
Grab Akuisisi Foodpanda Taiwan Rp10 Triliun, Ekspansi Global

  • Grab resmi mengakuisisi operasional Foodpanda di Taiwan dengan nilai transaksi US$600 juta (Rp10,19 triliun).
  • Langkah ini menandai ekspansi pertama Grab ke layanan pengantaran makanan di luar wilayah inti Asia Tenggara.
  • Delivery Hero melepas unit bisnis Taiwan guna merampingkan portofolio akibat tekanan dari para investor.

Raksasa teknologi Grab Holdings Ltd. baru saja mengumumkan langkah strategis besar. Melalui pengumuman resmi, Grab akuisisi Foodpanda Taiwan dari tangan Delivery Hero SE dengan nilai transaksi mencapai US$600 juta. Jika dikonversi ke rupiah, nilai tersebut setara dengan Rp10,19 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp16.996 per dolar AS.

Aksi korporasi ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Grab. Perusahaan kini resmi memulai ekspansi pertamanya ke bisnis pengantaran makanan di luar pasar utama mereka, yaitu Asia Tenggara. Melansir laporan Bloomberg, akuisisi berbasis tunai ini akan memperluas jangkauan layanan Grab hingga ke 21 kota di Taiwan.

Strategi Besar Grab Akuisisi Foodpanda Taiwan

Pihak manajemen menargetkan transaksi besar ini akan rampung sepenuhnya pada paruh kedua tahun ini. Namun, Grab masih harus menunggu persetujuan dari regulator setempat untuk memproses finalisasi akuisisi. Langkah ini menunjukkan ambisi Grab untuk terus mendominasi pasar pengantaran makanan di kawasan Asia.

Tekanan Investor di Balik Keputusan Delivery Hero

Bagi Delivery Hero, keputusan melepas unit bisnis di Taiwan merupakan bagian dari strategi perampingan portofolio. Perusahaan asal Jerman ini tengah fokus meningkatkan efisiensi bisnis, terutama di kawasan Asia. Langkah divestasi ini muncul setelah adanya dorongan kuat dari sejumlah pemegang saham besar.

Salah satunya adalah hedge fund asal Hong Kong, Aspex Management. Mereka mendorong Delivery Hero untuk melakukan peninjauan ulang terhadap strategi bisnis global. Sebelumnya, perusahaan sempat berencana menjual operasionalnya di Taiwan ke Uber, namun rencana tersebut gagal karena kendala regulasi persaingan usaha.

Prospek Industri dan Fokus Profitabilitas

Saat ini, Grab juga sedang menghadapi fase perlambatan pertumbuhan organik. Oleh karena itu, perusahaan kini lebih memprioritaskan profitabilitas dibandingkan sekadar mengejar angka pertumbuhan volume. Strategi akuisisi menjadi pilihan logis karena ruang ekspansi di pasar Asia Tenggara sudah mulai terbatas.