Bos Samsung Ungkap Teknologi di Balik Kamera Galaxy S26 Ultra yang Kini Lebih Peka Cahaya
Samsung Galaxy S26 Ultra resmi menjadi suksesor Galaxy S25 Ultra setelah debut dalam acara Galaxy Unpacked pekan lalu.
Smartphone ini hadir dengan peningkatan di sektor kamera, salah satunya di bagian aperture di mana kamera ponsel ini bisa lebih banyak menangkap cahaya saat memotret dalam kondisi minim.
Samsung S26 Ultra sendiri memiliki empat kamera meliputi kamera utama 200 MP disertai OIS, kamera telefoto 50 MP dengan zoom optis 5x, kamera telefoto 10 MP dengan zoom optis 3x dan kamera ultrawide 50 MP (f/1.9).
Kamera utamanya dibekali dengan aperture f/1.4, meningkat dari Galaxy S25 Ultra f/1.7.
Peningkatan ini diklaim mampu membuat ponsel menangkap lebih banyak cahaya hingga 47 persen ketimbang sebelumnya. Samsung bahkan mengeklaim bahwa Galaxy S26 Ultra menawarkan gambar paling terang yang pernah ada.
Secara teori, semakin kecil angkanya, maka bukaan lensa semakin besar, sehingga memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk.
Aperture pada kamera telefoto 50 MP-nya juga ditingkatkan menjadi f/2.9 dari model sebelumnya f/3.4.
"Dalam kondisi redup, Samsung Galaxy S26 Ultra akan menangkap lebih banyak cahaya. Artinya, noise-nya lebih minim, sehingga kualitas video low-light jadi jauh lebih baik," kata Sungdae Joshua Cho, Head of Visual Solution Team Samsung Electronics dalam sesi wawancara bersama jurnalis KOMPAS.com Lely Maulida dalam rangkaian Galaxy Unpacked yang digelar di hotel JW Marriot, San Francisco, Selasa (24/2/2026).
Ilustrasi teknologi Pro Visual Engine di Samsung Galaxy S26 Ultra
Peningkatan itu juga tidak lepas dari teknologi Pro Visual Engine yang diklaim secara efektif mampu mengelola sisa noise sehingga hasil kameranya lebih baik lagi.
Mengingat Galaxy S26 Ultra memiliki beragam sensor, maka karakteristik noise-nya juga beragam, sehingga Samsung menggunakan Pro Visual Engine generasi ketiga untuk mengendalikannya.
"Kami menambahkan satu blok khusus ke dalam sistem AP ISP dan secara efektif mengendalikan semua noise sensor. Walhasil videonya tetap mulus dan konsisten walaupun pengguna mengambil video dari beragam sensor," jelas Joshua Cho.
Perusahaan asal Korea Selatan ini juga membuat sistem pencahayaan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengelola pencahayaan kamera Samsung Galaxy S26 series.
"Karena kami tidak bisa mengendalikan pengguna yang terkadang merekam video dengan background terang atau redup. Jadi kami membuat sistem pencahayaan berbasis AI," ujar Cho.
Untuk membuat sistem itu, Joshua Cho dan timnya mengumpulkan sekitar 10.000 adegan dalam berbagai kondisi. Data ini ditingkatkan menjadi 1,3 juta data, melibatkan teknologi augmented data.
Sungdae Joshua Cho, Head of Visual Solution Team Samsung Electronics
Data tersebut kemudian dilatih agar menghasilkan transisi pencahayaan yang halus dari satu kondisi cahaya tertentu ke kondisi lainnya.
Selain itu, Samsung juga melibatkan data dari gyroscop untuk memantau pergerakan pengguna, apakah merekam video dalam kondisi yang stabil atau bergerak ke samping seperti panning dan lain-lain.
"Data tersebut ditambahkan ke sistem eksposur berbasis AI untuk memberikan transisi yang andal dari kondisi pencahayaan apapun," jelas bos Samsung yang fokus pada pengembangan kamera tersebut.
Pada akhirnya berbagai dukungan itu membuat Samsung Galaxy S26 Ultra mampu menghasilkan video dengan noise yang minim, serta pencahayaan yang mulus walaupun pengguna merekam dengan berganti sensor dan pencahayaan obyek yang dinamis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang