Purbaya Ngaku Kerja Keras sampai Sakit demi Dongkrak Rasio Pajak
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengakui, pihak harus berupaya ekstra keras dalam mendongkrak rasio pajak (tax ratio) terhadap produk domestik bruto (PDB), dari 9,31 persen di tahun 2025 menjadi ke kisaran 11-12 persen di tahun 2026 ini.
"Kalau kita bisa menaikkan level sampai 11-12 persen, itu sudah aman sekali. Tapi emang enggak gampang, perlu extra effort," kata Purbaya di DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 9 Februari 2026.
Dia bahkan mengaku bahwa untuk mengupayakan hal tersebut, dirinya sampai harus sakit demi mewujudkannya. "Makanya sampai sakit-sakit nih, nanti kita beresin," ujarnya.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya pun membeberkan strategi dalam mencapai target rasio pajak itu, namun tanpa harus menaikkan tarif pajak. Langkah pertama yakni dengan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sehingga, Purbaya berharap bahwa nantinya kecenderungan masyarakat untuk membayar pajak bisa semakin tinggi, dengan ikut meningkatnya pendapatan mereka. "Jadi ekonominya harus tumbuh dulu, itu yang pertama. Nah, sekarang kan sudah lumayan tuh," kata Purbaya.
Strategi kedua yakni melalui perbaikan kemampuan pengumpulan penerimaan negara di Ditjen Pajak (DJP) serta Ditjen Bea dan Cukai (DJBC), dengan mencegah kebocoran-kebocoran yang masih terjadi.
Hal itu diakuinya disebabkan karena masih maraknya praktik kongkalikong, yang dilakukan antara wajib pajak dengan petugas pajak maupun bea cukai. Karenanya, upaya rotasi dan pembersihan orang-orang bermasalah baik di DJP maupun di DJBC pun terus dilakukan di lingkungan masing-masing.
"Dan sekarang kita juga pakai coretax supaya lebih efektif lagi. Kita tidak akan membiarkan adanya penggelapan pajak atau kongkalikong lagi antara petugas pajak dengan para pelaku usaha," kata Purbaya.
Strategi terakhir, lanjut Purbaya, adalah dengan memperkuat penggunaan teknologi digital dari sisi pengawasan, maupun administrasi layanan pajak serta bea cukai.
"Kita juga menerapkan AI untuk mendeteksi under-invoicing. Sudah ketahuan tuh yang saya pernah sebut, ekspor CPO banyak sekali yang ketahuan under-invoicing. Nanti akan kita kejar lagi ke depannya," ujarnya.