Tujuh Bulan dalam Dekapan Selat Bali, Wawan Kelasi Tunu Pratama Jaya Pulang dengan Seragam Lengkap

KMP Tunu Pratama, Banyuwangi, Tunu Pratama Jaya, Tujuh Bulan dalam Dekapan Selat Bali, Wawan Kelasi Tunu Pratama Jaya Pulang dengan Seragam Lengkap, Detik-detik Penemuan Jenazah di Kedalaman 56 Meter, Sosok Wawan: Kelasi yang Mengutamakan Penumpang, Kronologi Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya, Penuntasan Hak dan Santunan Keluarga

Penantian panjang keluarga I Wayan Teja Setiawan (35) alias Wawan akhirnya menemui titik terang. Setelah tujuh bulan dinyatakan hilang dalam tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, jenazah pria yang dikenal sebagai sosok berdedikasi ini berhasil ditemukan pada Minggu (1/2/2026).

Jenazah Wawan ditemukan dalam kondisi mengenakan pakaian lengkap saat proses pengangkatan bangkai kapal berlangsung di perairan Selat Bali sekitar pukul 06.30 WIB.

Penemuan ini menjadi pelipur lara bagi keluarga yang selama ini hidup dalam ketidakpastian pasca-insiden maut pada Juli 2025 silam.

Detik-detik Penemuan Jenazah di Kedalaman 56 Meter

Proses evakuasi bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang dilakukan oleh PT Buto membuahkan hasil tak terduga. Saat tongkang bercakar Pioner 88 mengangkat sebuah truk dari kedalaman 56 meter, sesosok jenazah tiba-tiba muncul ke permukaan laut.

"Jenazah muncul setelah kami mengangkat kendaraan truk," ujar Jonathan Chandra, perwakilan PT Buto, Minggu (1/2/2026).

Jonathan menambahkan bahwa jenazah tersebut ditemukan mengapung di dekat tongkang dengan kondisi pakaian yang masih melekat utuh.

Di dalam saku celana korban, petugas menemukan dompet berisi kartu identitas berupa KTP dan SIM, serta sebuah ponsel yang masih tersimpan rapi.

Dirpolairud Polda Jatim, Arman Asmara Syarifuddin, membenarkan adanya laporan tersebut.

"Iya, kami menerima laporan bahwa telah ditemukan satu jenazah," kata Arman. Saat ini, tim DVI Polda Jatim tengah melakukan identifikasi resmi di RSUD Blambangan.

Sosok Wawan: Kelasi yang Mengutamakan Penumpang

KMP Tunu Pratama, Banyuwangi, Tunu Pratama Jaya, Tujuh Bulan dalam Dekapan Selat Bali, Wawan Kelasi Tunu Pratama Jaya Pulang dengan Seragam Lengkap, Detik-detik Penemuan Jenazah di Kedalaman 56 Meter, Sosok Wawan: Kelasi yang Mengutamakan Penumpang, Kronologi Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya, Penuntasan Hak dan Santunan Keluarga

Tangkapan layar video operasi pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya.

Bagi keluarga dan rekan kerjanya, Wawan bukan sekadar kru kapal biasa. Warga Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi ini telah bekerja sebagai kelasi selama dua tahun di KMP Tunu Pratama Jaya.

Istri Wawan, Ratna, menceritakan sisi heroik suaminya di detik-detik terakhir sebelum kapal karam. Berdasarkan kesaksian kru yang selamat, Wawan sebenarnya baru saja selesai beristirahat saat kapal mulai miring akibat kebocoran mesin.

Namun, bukannya menyelamatkan diri, bapak dua anak ini justru memilih tetap di atas kapal untuk membantu orang lain.

"Saat kapal mulai bermasalah, Wawan memilih untuk menyelamatkan penumpang. Di akhir hayatnya, ia masih berupaya membagikan pelampung kepada penumpang," tutur Ratna saat ditemui di Kamar Jenazah RSUD Blambangan, Minggu malam.

Ratna mengaku telah mengikhlaskan kepergian suaminya sejak lama, bahkan pengajian tahlil telah digelar beberapa bulan lalu. Namun, penemuan jenazah ini memberikan kelegaan emosional yang luar biasa bagi keluarga.

Kronologi Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya

Tragedi ini bermula pada Rabu (2/7/2025) malam. KMP Tunu Pratama Jaya bertolak dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk pukul 22.56 WIB dengan membawa sekitar 70 penumpang dan awak.

Hanya dalam waktu 30 menit perjalanan, tepatnya pukul 23.20 WIB, kapal mengalami kebocoran di ruang mesin hingga menyebabkan mesin mati total (blackout).

Kapal miring dengan cepat dan tenggelam sepenuhnya di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Insiden ini mengakibatkan lebih dari 20 orang meninggal dunia.

Hingga Februari 2026, proses pencarian korban masih terus dilakukan seiring dengan upaya pengangkatan bangkai kapal. Berikut adalah rincian penemuan korban terbaru:

  • 1 Februari 2026: Jenazah Wawan ditemukan saat pengangkatan truk dari bangkai kapal. Di lokasi berbeda, patroli Pos AL Gilimanuk dan nelayan juga menemukan jenazah yang mengapung.
  • 2 Februari 2026: Tim menemukan kembali dua jenazah di bagian dalam kapal dalam kondisi tidak utuh akibat terendam air laut selama 7 bulan.

Penuntasan Hak dan Santunan Keluarga

Meski duka mendalam masih dirasakan, Ratna memastikan bahwa hak-hak suaminya telah dipenuhi. Pihak keluarga sudah menerima santunan dari perusahaan kapal, asuransi Jasa Raharja, hingga BPJS Ketenagakerjaan.

Kini, Ratna berfokus membesarkan kedua buah hatinya yang masing-masing berusia 7 tahun dan 1,5 bulan. Sambil membantu usaha katering mertuanya, ia berusaha menata masa depan meskipun tanpa kehadiran sang suami.

"Saya lega rasanya jenazah sudah ditemukan. Kami akan menggelar pengajian lagi setelah ini," ucap Ratna menutup pembicaraan.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang