Impresi Pertama Merasakan SUV Jetour T2 di Area Offroad

 Sport Utility Vehicle (SUV) boxy Jetour T2 resmi meluncur di gelaran GJAW 2025 dengan banderol Rp 500 jutaan. 

Model ini menyasar konsumen perkotaan yang membutuhkan kendaraan nyaman untuk mobilitas sehari-hari, tetapi juga tangguh diajak melibas medan offroad.

Mengusung konsep Travel Plus, harapannya Jetour T2 dapat mengakomodir kebutuhan konsumen berkendara di berbagai kondisi jalan tanpa khawatir.

“Konsumen kita suka mengeksplor dan desain bagus. Jadi kami hadir tak hanya untuk mobilitas urban tetapi juga petualangan outdoor,” kata Caroline Ling, Presiden Direktur Motor Indonesia di Tangerang beberapa waktu lalu.

Jetour T2

KatadataOTO bersama sejumlah rekan media berkesempatan untuk menjajal Jetour T2 di area offroad di kawasan Pagedangan, BSD City, Tangerang.

Ada sejumlah keunggulan yang mau ditonjolkan selama pengalaman tersebut yakni kenyamanan kabin dan kemudahan handling.

Jetour T2 dilengkapi delapan mode berkendara. Tetapi apabila pengemudi mengaktifkan X Smart Mode, mobil bisa menyesuaikan mode sesuai dengan kondisi jalan dilalui.

“Jetour T2 kita posisikan sebagai SUV multi-condition buat driving, antar keluarga, hangout dan fun-to-drive,” kata Moch. Ranggy Radiansyah, Marketing Director PT Jetour Motor Indonesia dalam kesempatan sama.

Impresi Kabin

Ketika masuk ke kabin pengemudi, kursi secara otomatis mundur untuk memudahkan akses. Lalu seluruh pengaturannya sudah elektrik.

Namun sebagai catatan, pengemudi dengan tinggi badan di kisaran 160 cm ke bawah terasa kurang nyaman dan percaya diri ketika melibas medan offroad.

Visibilitasnya terasa lebih terbatas, ditambah kaca belakang berukuran kecil. Namun kekurangan ini diimbangi oleh kehadiran kamera 360.

Berbeda dari banyak mobil Cina, masih terlihat banyak tombol fisik guna mengatur fitur seperti AC.

Tetapi fungsi spion yang harus dikendalikan lewat headunit, lagi-lagi cukup merepotkan dan butuh pembiasaan lagi.

Jetour T2

Sementara di bangku baris kedua, kabin terasa sangat lapang. Interiornya didominasi warna hitam, kental nuansa sporti.

Sensasi Berkendara

Karena keterbatasan waktu, rute offroad yang kami coba cukup pendek namun bisa sedikit menjawab rasa penasaran.

Akibat kondisi hujan deras area offroad digenangi air dan lumpur, mengakibatkan ban mobil mudah selip. 

Namun Jetour T2 sebab mode berkendara Mud terintegrasi sistem penggerak four wheel drive (4WD) adaptif mereka.

Distribusi tenaga pada setiap roda bisa disesuaikan agar Jetour T2 tidak kehilangan traksi di tengah jalan berlumpur.

Hanya saja setir terasa ringan ditambah posisi berkendara kurang ergonomis, jadi mengurangi rasa percaya diri melibas area offroad.

Bisa dibilang, Jetour T2 lebih cocok dipakai untuk menjajal medan offroad ringan atau tidak terlalu ekstrem.

Penggunaan transmisi DCT terbilang kurang kompatibel dipakai stagnan dalam kecepatan rendah saat melalui medan offroad berat, karena rentan overheating.

Di samping itu, KatadataOTO juga merasakan langsung duduk di bangku baris kedua saat Jetour T2 menjajal area offroad. 

Karakter suspensinya terbilang empuk, jadi guncangan di kabin bisa diminimalisir dan kenyamanan penumpang terjaga.

Lalu dalam perjalanan kembali dari BSD City menuju Cilandak Town Square, penumpang dibuat betah berkat kabin lapang dan tersedianya AC di area konsol tengah.

SUV yang mengusung konsep boxy offroad cocok buat konsumen jika mencari kendaraan bergaya tangguh tetapi tawarkan kenyamanan kabin.

Kesimpulan

Jetour T2 menawarkan tenaga mumpuni dibawa offroad ringan berkat mode berkendara yang disematkan.

Jetour T2

Kemudian duduk di bangku penumpang, kabin lapang dan suspensi empuk menjadi nilai tersendiri khususnya untuk perjalanan jarak jauh.

Catatan buat kami adalah posisi berkendara terasa kurang ergonomis untuk pengemudi wanita bertubuh pendek.

Kemudian pengaturan spion Jetour T2 harus diakses melalui headunit, sehingga butuh pembiasaan lagi bagi pengemudi.