Kisah Hoegeng Tolak Hadiah Mobil dari Pengusaha Pro Pemerintah, Tak Mau Menteri Jadi "Celah"
Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso tidak hanya dikenang karena gaya hidupnya yang sederhana dan disiplin, tetapi juga karena integritasnya.
Hoegeng yang pernah menjabat sebagai Kapolri pada1968–1971 konsisten menjaga prinsip sebagai pejabat negara, bahkan ketika berada di lingkaran kekuasaan.
Sebelum memimpin Korps Bhayangkara, Hoegeng mengemban amanah sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Meski memegang jabatan strategis, Hoegeng menolak berbagai bentuk hadiah atau fasilitas pribadi yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Sikap tersebut tercermin saat ia menolak mobil keluaran terbaru yang merupakan pemberian dari seorang pengusaha besar.
Bahkan, sepeda motor yang sempat terparkir di rumahnya pun dikembalikan kepada pengirim, meski keputusan ini sempat membuat anaknya kecewa.
Hoegeng Tolak Hadiah Mobil dari Pengusaha Besar
Dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan terbitan Penerbit Buku Kompas, Soedharto Martopoespito atau Dharto mengisahkan keteguhan prinsip Hoegeng saat menjabat Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet pada 1966.
Dharto, yang saat itu menjabat sebagai Pjs Kepala Bagian Administrasi Biro VIII Bidang Politik, Keamanan, dan Subversi Sekretariat Negara, ditunjuk menjadi sekretaris menteri dengan tugas mendampingi Hoegeng.
Beberapa pekan setelah pelantikan, Hoegeng menerima informasi mengenai hadiah sebuah mobil baru dari Dasaad Musin Concern, perusahaan milik pengusaha yang memegang lisensi sejumlah merek mobil Eropa, seperti Mazda dan Fiat.
Hadiah tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno.
Dharto mengatakan, Hoegeng sebenarnya tinggal mengambil satu unit Mazda “kotak” keluaran terbaru.
Alih-alih mengambil mobil tersebut, Hoegeng memilih menyimpan surat pemberitahuan dari pihak perusahaan di meja kerjanya.
Ia tidak menunjukkan keinginan untuk mendatangi showroom dan membawa pulang hadiah mobil.
Suatu hari, Hoegeng kedatangan seorang teman lama. Percakapan berlangsung hangat hingga sang tamu mengucapkan selamat atas jabatan menteri yang diemban Hoegeng.
Di sela perbincangan, tamu itu menyinggung soal mobil Mazda dari Dasaad dan menanyakan apakah Hoegeng sudah menerimanya.
Kepala Polri (1968-1971) Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso.
Pertanyaan tersebut membuat Hoegeng terdiam sejenak.
Hoegeng kemudian menunjukkan surat pemberitahuan dari perusahaan, seraya mengatakan bahwa ia memang mendapat hadiah mobil, tetapi belum memutuskan untuk mengambilnya.
Tak lama berselang, Hoegeng menawarkan surat tersebut kepada tamunya dengan bertanya apakah ia berminat. Sang tamu tentu langsung menyatakan kesediaannya.
Hoegeng pun menyerahkan surat pemberitahuan itu agar mobil bisa langsung diambil oleh temannya.
Setelah perbincangan berakhir, tamu tersebut pamit pulang.
Hoegeng lalu berbincang singkat dengan Dharto mengenai peristiwa yang baru saja terjadi.
Pada saat itu, Hoegeng mempertanyakan apakah dirinya layak dan pantas menerima hadiah mobil dari pengusaha yang tidak dikenalnya secara pribadi.
Hoegeng juga menyoroti waktu pemberian hadiah yang datang setelah dirinya ditunjuk sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet.
Menurutnya, pemberian itu patut dipertanyakan maksud dan tujuannya.
Dharto menirukan ucapan Hoegeng dengan nada heran.
Ia mengatakan, masih ada saja orang yang tega menerima mobil, padahal orang tersebut secara ekonomi jauh lebih mapan dibanding Hoegeng.
Alih-alih menyesal, Hoegeng justru merasa bersyukur karena tidak menikmati hadiah tersebut.
Ia mengaku tidak ingin menerima pemberian apa pun yang berkaitan dengan jabatan, terlebih tanpa mengetahui motif di baliknya.
Hoegeng Mengembalikan Hadiah Motor
Keteguhan Hoegeng menjaga integritas tidak berhenti saat ia menjabat menteri.
Prinsip yang sama tetap ia pegang ketika dipercaya menjadi Kapolri.
Aditya Soetanto Hoegeng alias Didit, putra Hoegeng, mengisahkan ayahnya pernah menolak sejumlah hadiah yang datang selama menjabat sebagai Kapolri.
Suatu hari, Didit dikejutkan dengan keberadaan dua unit sepeda motor baru yang terparkir di rumahnya di Jalan Madura, Jakarta.
Motor itu masih terbungkus plastik dan diletakkan tak jauh dari kamar Didit.
Melihat kendaraan tersebut, Didit sempat berharap ayahnya berkenan menerimanya.
Maklum saja, motor yang dikirim adalah Lambretta, merek skuter bergengsi pada masanya.
Namun, harapan itu pupus ketika Hoegeng pulang ke rumah.
Dari balik ventilasi kamar, Didit melihat ayahnya langsung memanggil ajudan begitu mengetahui ada dua motor terparkir di halaman.
Tanpa ragu, Hoegeng meminta agar motor tersebut segera dikembalikan kepada pengirimnya.
Saat itu, jarum jam masih menunjukkan sekitar pukul 16.00 WIB.
Didit hanya bisa terdiam mendengar keputusan tersebut.
Dalam hati, ia menggumam lirih, “Ya, pahit lagi.” Meski kecewa, ia memilih menyimpan perasaannya dan tidak mengungkapkan keluh kesah kepada sang ayah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang