Transjakarta Hadirkan 'Otak Digital' Canggih untuk Revolusi Transportasi Kota

Ilustrasi bus Transjakarta
Ilustrasi bus Transjakarta

Langkah ini bertujuan untuk menghadirkan sistem operasional yang lebih adaptif, efisien, dan terintegrasi, sebagai solusi atas kompleksitas mobilitas perkotaan yang semakin meningkat. Transjakarta memperkenalkan salah satu inisiatif strategisnya, yakni penerapan SYNTRA, sebuah sistem operasional terintegrasi yang dikembangkan dan dioperasikan secara internal.

SYNTRA dirancang untuk menjadi tulang punggung pengelolaan layanan Transjakarta, mendukung orkestrasi operasional skala besar di Jakarta, sekaligus menjadi model pengembangan transportasi berbasis data yang bisa diterapkan di kota-kota lain di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Raditya Maulana Rusdi, Direktur Teknologi Informasi dan Pelayanan Transjakarta, dalam forum Indonesia International Transport Summit (IITS) 2025 yang diselenggarakan di The Tribrata Hotel & Convention Center.

Raditya menjelaskan bahwa, sebagai bagian dari strategi transformasi ini, Transjakarta juga meluncurkan aplikasi resmi TJ Transjakarta yang kini menjadi antarmuka utama antara pelanggan dan sistem operasional.

Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi layanan, merencanakan perjalanan, dan berinteraksi langsung dengan pusat kendali operasional. Dengan adanya data perilaku mobilitas yang semakin kaya, Transjakarta kini dapat memahami kebutuhan pelanggan secara lebih presisi dan dinamis.

“Melalui pemanfaatan data dari aplikasi, kami tidak hanya meningkatkan kualitas layanan harian, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih dalam terhadap dinamika pergerakan kota. Ini memungkinkan kebijakan operasional yang lebih adaptif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat,” ujar Raditya dikutip Minggu, 30 November 2025.

Disisi operasional, lanjutnya, SYNTRA berfungsi sebagai platform terintegrasi yang menghubungkan berbagai proses penting, mulai dari perencanaan layanan, penjadwalan armada dan pramudi, hingga monitoring operasional secara real-time. Sistem ini, kata dia, terhubung dengan infrastruktur Command Center, data pelanggan, jaringan pengawasan operasional, serta sensor dan modul kecerdasan buatan untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat.

SYNTRA, yang dirancang sebagai digital mobility brain, tutur Raditya, memungkinkan Transjakarta beralih dari pendekatan reaktif menjadi lebih prediktif dan adaptif. Dengan pemanfaatan data secara end-to-end, Transjakarta kini dapat merespons dinamika operasional secara lebih presisi, mengoptimalkan layanan, serta meningkatkan konsistensi kualitas layanan di seluruh jaringan.

Katanya, transformasi ini tidak hanya berdampak pada performa operasional internal Transjakarta, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap tata kelola transportasi perkotaan. SYNTRA memungkinkan peningkatan efisiensi operasional, penguatan aspek keselamatan melalui monitoring berbasis data, serta peningkatan kualitas layanan bagi pelanggan melalui stabilitas pelayanan dan informasi perjalanan yang lebih andal.

Lebih lanjut dia menyebut, data yang dihasilkan dari sistem ini menjadi fondasi strategis dalam mendukung perencanaan transportasi jangka menengah dan panjang, serta integrasi dengan inisiatif smart city. Data tersebut juga berperan penting dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti dalam pengelolaan transportasi publik dan mobilitas perkotaan.

“Kami meyakini bahwa transformasi transportasi publik bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang bagaimana membangun sistem yang mampu beradaptasi dengan karakter setiap kota. Kami terbuka untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran implementasi ini dengan pemerintah kota lain yang memiliki visi serupa terhadap masa depan transportasi publik,” tutur Raditya.

Dengan pendekatan kolaboratif berbasis pengetahuan dan pengalaman operasional ini, Transjakarta berharap dapat berkontribusi dalam mendorong lahirnya ekosistem transportasi perkotaan yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan di berbagai kota Indonesia, tanpa harus memulai dari nol.