Ini Hal Penting yang Wajib Masuk Family Planning, Pengantin Baru Harus Tahu!
Banyak pasangan yang baru memasuki kehidupan rumah tangga memilih untuk fokus pada persiapan resepsi, bulan madu, hingga membeli hunian pertama. Namun, ada satu aspek krusial yang kerap terlewat dalam daftar perencanaan: literasi finansial.
Padahal, hampir seluruh impian keluarga—baik membeli rumah, kendaraan, maupun merintis usaha—membutuhkan kesiapan dana yang tidak kecil. Jika kemampuan terbatas, pasangan muda tentu akan bergantung pada fasilitas pembiayaan dari lembaga keuangan. Scroll lebih lanjut yuk!
Mengacu pada Buku Saku Cerdas Mengelola Keuangan terbitan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pasangan baru disarankan memahami skala prioritas antara kebutuhan dan keinginan. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Menetapkan kebutuhan utama keluarga melalui kesepakatan bersama
Pasangan perlu memiliki persepsi yang selaras terkait kebutuhan dasar—mulai dari biaya hidup, dana darurat, sampai rencana jangka panjang. Kesepakatan ini idealnya dievaluasi secara berkala mengikuti perubahan kondisi dan prioritas.
2. Merencanakan pembiayaan untuk mimpi-mimpi besar
Keinginan seperti resepsi, bulan madu, membeli properti pertama, hingga memulai usaha harus dihitung secara realistis. Untuk aset, pahami kebutuhan uang muka, batas kredit, serta kemampuan mencicil. Jika ingin berbisnis, hitung kebutuhan modal, opsi pendanaan, hingga strategi awal yang memungkinkan.
3. Memilih fasilitas pembiayaan yang tepat
Setelah tujuan jelas, pasangan harus mempertimbangkan fasilitas pembiayaan yang paling sesuai—baik kredit konsumtif maupun produktif. Mengetahui suku bunga, tenor, biaya tambahan, dan kemampuan bayar jangka panjang sangat penting agar kondisi finansial tetap sehat.
Namun, seluruh perencanaan tersebut tidak akan maksimal jika pemahaman dasar tentang literasi kredit masih minim. Salah satu isu terbesar yang sering diabaikan pasangan baru adalah pentingnya skor kredit.
Masih banyak pasangan yang belum memahami fungsi skor kredit serta bagaimana membangunnya sejak awal, padahal akses pembiayaan sangat bergantung pada rekam jejak tersebut.
Akibatnya, keputusan pengelolaan utang sering kali kurang matang dan dapat mempengaruhi rencana jangka panjang keluarga.
Mendukung edukasi OJK, SkorKu merangkum lima langkah sederhana yang dapat membantu pasangan muda membangun fondasi finansial yang lebih kuat:
- Mulai bangun skor kredit sejak dini, bukan hanya ketika membutuhkan pinjaman. Setelah menikah, reputasi finansial kedua belah pihak akan dinilai oleh lembaga keuangan ketika mengajukan pendanaan.
- Gunakan akun keuangan atas nama masing-masing dan jaga komunikasi terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman finansial.
- Atur kewajiban bersama secara proporsional dan hindari menumpuk pinjaman pada satu pihak saja.
- Penuhi seluruh kewajiban pembayaran tepat waktu, meskipun nominalnya kecil.
- Pantau skor kredit secara rutin melalui SkorKu untuk menjaga transparansi dan mengantisipasi risiko.
“Perencanaan keluarga yang matang bukan hanya soal berapa anak yang ingin dimiliki, tetapi juga bagaimana setiap pasangan membangun kepercayaan finansial bersama. Di masa dewasa ini, lembaga pemberi pinjaman tidak hanya menilai skor kredit kita sendiri untuk menilai profil risiko kita, namun skor kredit pasangan juga dinilai apabila kita sudah menikah. Memahami dan menjaga skor kredit adalah bagian penting dari membangun stabilitas dan reputasi keuangan keluarga sedini mungkin karena skor kredit terbentuk dari salah satu riwayat pengelolaan keuangan, yaitu pengelolaan utang yang dituangkan ke dalam laporan kredit,” ujar Nora Asteria, Head of Consumer Business CBI.
Nora turut mengingatkan agar tidak meminjamkan akun maupun identitas finansial kepada siapapun, termasuk pasangan. Banyak kasus menunjukkan bahwa perilaku konsumtif atau aktivitas berisiko—termasuk online gambling—dapat membuat seseorang menyalahgunakan identitas pasangannya untuk mengajukan pinjaman, yang akhirnya merusak reputasi kredit.
“Bahkan ketika kita meminjam dari teman atau keluarga, reputasi tetap menjadi pertimbangan utama. Orang akan berpikir dua kali jika tahu kita sering menunda pembayaran. Prinsip yang sama berlaku di lembaga keuangan, dengan data yang tercatat secara sistematis melalui laporan kredit,” lanjut Nora.