Apa Itu Istilah Lavender Marriage yang Ramai Disorot Netizen?

Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan

 Rumah tangga pasangan Irish Bella dan Haldy Sabri belakangan mendapat sorotan pengguna media sosial. Banyak publik mengaitkan pernikahan keduanya dengan istilah lavender marriage. Hal ini menyusul dengan beredar video yang menampilkan tingkah laku Haldy yang dianggap “berbeda” saat memberikan kejutan ulang tahun kepada teman laki-lakinya. 

Video tersebut kemudian viral dan memicu gosip tak sedap soal dugaan lavender marriage di antara keduanya. Menyusul dengan tudingan tersebut, Irish Bella menanggapinya santai.

”Dia itu kadang ada tingkah-tingkahnya yang absurd yang bikin ngakak. Itu yang nggak banyak orang liat. Dan kebetulan di video itu kerekam emang dia tuh suka anh, absurd, bercandana nggak jelas dan saat itu kerekam,”kata dia saat menjadi bintang tamu dalam podcast Warung Kopi baru-baru ini.

Lantas apa itu Lavender Marriage yang ramai ditudingkan netizen ke Irish Bella dan suaminya, Haldy Sabri? Melansir laman Marriage, lavender marriage adalah pernikahan antara pria dan wanita di mana setidaknya salah satu pasangan adalah homoseksual atau biseksual, namun pernikahan tersebut dilakukan bukan karena cinta romantis.

Secara historis, lavender marriage dilakukan untuk menyembunyikan orientasi seksual pasangan yang terlibat karena tekanan sosial dan kurangnya penerimaan masyarakat. Istilah “lavender” sendiri melambangkan perpaduan warna yang sering dikaitkan dengan gender, menggambarkan penyamaran atau “campuran penampilan” dalam hubungan seperti ini.

“Beberapa pasangan memilih lavender marriage karena memungkinkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan norma heteroseksual, sambil tetap saling menghormati satu sama lain,” kata Jennifer Jacobsen Schulz, LCSW.

Ia menambahkan bahwa hal ini bukan berarti ada yang salah dengan hubungan non-heteroseksual, melainkan menunjukkan bahwa sebagian pasangan memilih keuntungan sosial yang datang bersama pernikahan heteroseksual.

Walau lebih umum di masa lalu, ketika penerimaan terhadap komunitas LGBTQ+ masih rendah, lavender marriage tetap ada hingga kini karena berbagai alasan pribadi dan sosial. Fenomena ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara identitas diri dan pandangan publik.

Pernikahan seperti ini, yang merupakan perpaduan menarik antara kompromi pribadi dan kepura-puraan sosial, terus memancing rasa ingin tahu dan menantang pandangan tradisional tentang hubungan romantis.

Bagaimana Cara Kerja Lavender Marriage: 7 Mekanismenya

Lavender marriage, perpaduan menarik antara kompromi pribadi dan kepura-puraan sosial  masih terus memancing rasa ingin tahu sekaligus menantang pandangan tradisional tentang hubungan. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sebagian pasangan memilih jalan unik dalam membangun kehidupan bersama, bukan atas dasar cinta romantis, melainkan demi alasan sosial, keluarga, atau bahkan profesional.

Melalui penelusuran yang lebih mendalam, kita bisa melihat bagaimana lavender marriage berfungsi di dunia nyata bagaimana kedua pihak mengatur hubungan mereka, menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan tekanan masyarakat, dan tetap menjaga keharmonisan dalam “pernikahan yang tidak biasa” ini.

Berikut tujuh cara kerja yang umumnya ditemukan dalam lavender marriage, yang menunjukkan betapa kompleks dan menariknya dinamika di balik pernikahan semacam ini.

1. Saling Pengertian dan Kesepakatan

Sebuah lavender marriage dimulai dari komunikasi yang terbuka antara kedua belah pihak. Keduanya memahami dengan jelas orientasi seksual masing-masing dan alasan pribadi di balik pernikahan tersebut.

Kesepahaman ini sangat penting karena menjadi dasar bagi semua aspek hubungan, memastikan kedua pihak memiliki harapan yang sejalan dan saling menghormati jati diri masing-masing. Inilah fondasi yang memungkinkan mereka menjalani hubungan yang unik sambil tetap tampil sebagai pasangan “normal” di mata masyarakat.

“Pemahaman ini tidak berarti salah satu atau kedua pasangan harus menekan hasrat seksualnya, tetapi lebih kepada saling mengetahui dan menerima hal tersebut meski tetap berada dalam pernikahan heteroseksual,” Dr. Jenni Schulz menekankan.

2. Menjadi Pelindung Sosial

Di lingkungan yang masih mendiskriminasi komunitas LGBTQ+, lavender marriage bisa menjadi bentuk perlindungan. Pernikahan ini membantu individu menyesuaikan diri dengan ekspektasi masyarakat tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu LGBTQ+ sering menghadapi tekanan sosial, prasangka, dan diskriminasi yang dapat berdampak pada kesehatan mental mereka. Dalam konteks ini, lavender marriage dapat menjadi “tameng sosial”, terutama di kalangan konservatif atau lingkungan kerja yang sensitif terhadap isu non-heteroseksual.

Hal ini memungkinkan seseorang menjaga citra publik dan privasi pribadi sekaligus melindungi kesejahteraan emosional mereka.

3. Mengurangi Tekanan dari Keluarga

Banyak orang menghadapi tekanan besar dari keluarga untuk hidup “normal” menikah dengan lawan jenis dan memiliki anak. Lavender marriage bisa menjadi jalan tengah untuk memenuhi harapan keluarga tanpa menimbulkan konflik besar.

Dengan cara ini, seseorang tetap bisa menjaga keharmonisan keluarga, menjalankan peran sebagai anak atau menantu yang “ideal”, tanpa harus membuka orientasi seksual yang sebenarnya.

4. Mendapatkan Manfaat Hukum dan Finansial

Pernikahan juga membawa banyak keuntungan hukum dan finansial seperti pengurangan pajak, hak waris, dan akses layanan kesehatan.

Bagi sebagian orang, lavender marriage adalah keputusan strategis untuk memperoleh hak-hak tersebut, terutama di negara atau daerah yang belum mengakui pernikahan sesama jenis secara hukum.

Dengan menikah, kedua pihak dapat mengamankan masa depan finansial mereka dan memiliki hak legal dalam urusan kesehatan, kepemilikan properti, maupun keputusan darurat lainnya.

5. Membangun Kebersamaan

Meski tidak dilandasi cinta romantis, banyak pasangan dalam lavender marriage memiliki hubungan yang kuat dalam bentuk persahabatan, rasa saling menghormati, dan dukungan emosional.

Kebersamaan seperti ini memberikan kenyamanan, stabilitas, serta teman hidup yang dapat dipercaya. Mereka sering menjadi tempat curhat satu sama lain, berbagi tantangan hidup, dan saling membantu secara praktis menciptakan kehidupan rumah tangga yang tetap harmonis.

6. Menjadi Rekan dalam Mengasuh Anak

Beberapa pasangan dalam lavender marriage memilih untuk memiliki anak. Dalam hal ini, pernikahan tersebut memberikan lingkungan yang stabil dan terstruktur untuk membesarkan anak bersama.

Keduanya dapat berbagi tanggung jawab dan kebahagiaan sebagai orang tua, memberikan anak kasih sayang dan rasa aman, meskipun hubungan mereka tidak melibatkan cinta romantis.

Selain itu, status pernikahan memberikan pengakuan hukum dan sosial bagi kedua orang tua, yang penting untuk urusan pengasuhan dan kesejahteraan anak.

7. Membantu Kemajuan Karier

Di beberapa profesi, status menikah sering dianggap sebagai tanda kedewasaan dan stabilitas. Dalam konteks ini, lavender marriage dapat membantu individu menyesuaikan diri dengan norma sosial yang berlaku dan memperkuat citra profesionalnya.

Hal ini sangat relevan di sektor konservatif atau posisi publik yang menuntut reputasi “sempurna”. Dengan tampil sebagai pasangan menikah, individu bisa lebih fokus pada karier tanpa harus menghadapi sorotan negatif terkait kehidupan pribadinya.

Singkatnya, lavender marriage mencerminkan hubungan yang kompleks — perpaduan antara kebutuhan pribadi, tekanan sosial, dan strategi hidup di tengah dunia yang belum sepenuhnya menerima keberagaman orientasi seksual. Meskipun tampak tidak konvensional, bagi sebagian orang, ini adalah bentuk kompromi yang dianggap paling realistis untuk bisa hidup damai antara jati diri dan tuntutan masyarakat.