VinFast Siap Produksi Lokal Saat Insentif Impor EV Dihentikan

 Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan memperpanjang insentif kendaraan listrik setelah 31 Desember 2025. Menanggapi hal itu, produsen mobil listrik asal Vietnam, VinFast, menyatakan siap mewujudkan komitmennya untuk melakukan produksi di Indonesia.

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarmo, mengatakan perusahaannya telah memperhitungkan kebijakan pemerintah yang akan mengakhiri insentif mobil listrik. Insentif tersebut antara lain berupa bea masuk 0% dan PPN Barang Mewah yang ditanggung pemerintah.

“Sejak produk pertama kami masuk ke Indonesia, perhitungan bisnisnya sudah memperhitungkan masa berlaku insentif. Jadi saat fasilitas itu berakhir, kami siap beralih ke produksi CKD di Subang,” ujarnya di Hanoi, Vietnam, beberapa waktu lalu.

Kariyanto menegaskan, VinFast ingin memainkan peran signifikan di Indonesia. Ia menyebut VinFast memang tergolong baru di Tanah Air karena baru mengirimkan mobil listrik pertamanya ke Indonesia pada Juli 2024. Namun, perusahaan otomotif tersebut berkomitmen untuk terus berkembang di pasar domestik.

Vinfast

“Jadi kami bukan istilahnya coba-coba, tapi memang ingin berkembang secara serius di Indonesia. Kami ingin menjadi pemain utama, khususnya di BEV market (pasar mobil listrik berbasis baterai),” ujarnya.

Produksi Pabrik di Subang

Kerry mengatakan, VinFast akan mewujudkan komitmen kepada pemerintah Indonesia untuk membangun pabrik di Tanah Air. Komitmen tersebut sudah disepakati saat VinFast mendapatkan insentif mobil listrik.

Sebagai informasi, Perpres No. 79 Tahun 2023 meniadakan bea masuk dan pajak barang mewah bagi BEV CBU impor hingga akhir tahun ini. Insentif tersebut hanya diberikan kepada entitas yang berkomitmen membangun pabrik dengan kapasitas setara volume impor yang diterima.

Oleh sebab itu, VinFast akan mulai mengoperasikan pabrik di Subang, Jawa Barat, akhir tahun ini. Kapasitas pabrik tersebut mencapai lebih dari 50.000 unit per tahun. “Itu kapasitas terpasang, tapi nanti produksi menyesuaikan,” kata Kariyanto.

Pabrik tersebut akan memproduksi model VF3 sebagai kendaraan pertama yang dirakit di Indonesia. Meski demikian, VinFast juga membuka peluang untuk memproduksi model lain di fasilitas yang sama. Saat ini, ada tiga tipe mobil VinFast yang sudah dipasarkan di Indonesia, yakni VF3, VF6, dan VF7.

Spesifikasi VinFast VF 3, Saingan Baru Wuling Air ev

Kariyanto menambahkan, pabrik di Subang akan memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 40% pada 2026. Pada tahap awal, pabrik ini akan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja, dengan prioritas bagi tenaga kerja lokal.

“Tentunya kami harapkan ke depan akan berkembang dan menyerap lebih banyak tenaga kerja lagi,” ujarnya.

Pemerintah Pastikan Insentif Impor Mobil Listrik Berakhir 2025

Impor kendaraan listrik (EV) utuh atau completely built-up (CBU) melonjak tajam sejak pemerintah memberikan insentif berupa peniadaan bea masuk dan pajak pertambahan nilai barang mewah (PPnBM).

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Rachmat Kaimuddin, menyatakan pemerintah tidak akan memperpanjang kebijakan tersebut setelah berakhir pada akhir 2025.

Rachmat memaparkan, impor EV pada 2024 mencapai lebih dari 18.000 unit, naik sekitar sembilan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Ia memperkirakan volume impor EV CBU akan melonjak lebih dari 250% menjadi 65.000 unit pada tahun ini.

Dengan demikian, total penjualan EV pada tahun ini diprediksi mencapai 100.000 unit, dengan produksi lokal sekitar 35.000 unit.

Namun, Rachmat menegaskan bahwa mulai tahun depan, seluruh penjualan EV akan beralih ke produksi dalam negeri, seiring berakhirnya insentif impor CBU.

“Memang EV saat ini masih impor. Namun kami memberikan izin impor tersebut kepada pelaku yang berkomitmen membangun pabrik EV di dalam negeri,” ujarnya.

Rachmat menilai, produksi lokal menjadi kunci peningkatan penggunaan EV di Indonesia. Ia juga mengakui lonjakan volume impor selama beberapa tahun terakhir merupakan dampak dari kebijakan peniadaan bea masuk dan PPnBM.

(Tia Komalasari)