Mulut Sombong Legendaris Sir Alex Ferguson Kini selalu Jadi Bumerang setiap Derby Manchester

Sir Alex Ferguson
Sir Alex Ferguson

 Sir Alex Ferguson pernah membuat pernyataan legendaris soal dominasi Manchester United atas rival sekota, Manchester City. Namun, ucapan itu kini seolah jadi bumerang bagi manajer tersukses dalam sejarah Setan Merah tersebut.

Ferguson menukangi MU sejak 1986 hingga 2013, dengan torehan 13 gelar liga. Selama eranya, United selalu menjadi penguasa Manchester, sementara City hanya jadi tim pelengkap. Bahkan, sebelum diakuisisi Abu Dhabi United Group pada 2008, prestasi tertinggi City hanyalah finis di posisi kelima pada 1992.

Namun, segalanya berubah setelah masuknya investor kaya dari Timur Tengah. City menjelma jadi kekuatan utama Liga Inggris, sedangkan United justru terjerembab dalam penurunan performa sejak Ferguson pensiun.

Prediksi “Not in My Lifetime”

Pada 2009, tak lama setelah City resmi diambil alih, Ferguson sempat ditanya apakah mungkin The Citizens suatu saat akan menjadi favorit dalam derby Manchester. Dengan nada tegas, pria asal Skotlandia itu menjawab:

“Jam berapa sekarang? Saya rasa sudah waktunya saya pergi. Tidak dalam hidup saya.”

Namun kenyataan berkata lain. Tiga belas tahun kemudian, Ferguson duduk di tribune kehormatan Etihad Stadium menyaksikan MU dipermalukan 3-6 oleh City pada derby pertama era Erik ten Hag. Kamera televisi menangkap ekspresinya yang muram, sementara komentator Guy Mowbray melontarkan kalimat pedas:

“Ferguson pernah ditanya pada 2009 apakah City bisa jadi favorit derby. Dia bilang, ‘Tidak dalam hidup saya’. Sekarang, itu terjadi setiap kali.”

Situasi Terkini

Kini, jelang derby 2025, City kembali lebih diunggulkan meski performa mereka di awal musim tidak terlalu meyakinkan setelah kalah dua kali dari tiga laga Premier League. United sendiri sedikit lebih baik, mengumpulkan satu poin lebih banyak lewat hasil imbang lawan Fulham, kekalahan dari Arsenal, serta kemenangan tipis 3-2 atas Burnley.

Realitasnya, ucapan Ferguson 16 tahun lalu kini justru menjadi simbol pergeseran kekuatan di Manchester. Jika dulu “merah” selalu mendominasi, sekarang “biru” hampir selalu difavoritkan setiap kali derby datang.