Review Lengkap Indomobil Emotor Sprinto: Desain sampai Biaya Kepemilikan
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan langsung untuk mengetes Indomobil Emotor Sprinto selama beberapa hari guna merasakan performanya sebagai motor harian.
Sebagian orang masih ragu bermigrasi ke sepeda motor listrik karena rasa berkendara yang asing atau biaya perawatan yang belum terprediksi.
Dalam tulisan ini, akan dijabarkan secara lengkap seluruh hasil pengujiannya, mulai dari sektor desain, spesifikasi dan fitur, rasa berkendara, hingga hitungan rinci biaya kepemilikannya.
Indomobil Emotor Sprinto
Desain Akrab ala Skutik Konvensional
Secara visual, Sprinto tampil proporsional dengan dimensi panjang 1.980 mm, lebar 745 mm, dan tinggi 1.115 mm. Siluet bodinya ringkas dengan bobot kosong 107,5 kg, jarak sumbu roda 1.360 mm, serta ground clearance sebesar 150 mm.
Desainnya yang sangat familiar ini membuat saya merasa tidak menjadi pusat perhatian yang aneh saat berhenti di lampu merah, karena bentuknya benar-benar menyatu dengan ekosistem jalanan harian.
Bagi saya yang memiliki tinggi 178 cm, ergonomi motor ini patut diacungi jempol. Posisi setang membuat tangan rileks dan kedua kaki bisa menapak sempurna ke tanah.
Berkat posisi baterai yang ada di bagasi, dek kaki dibuat tidak terlalu tinggi. Efeknya, berkendara jarak jauh tetap terasa nyaman bebas dari gejala kaki menekuk atau "jongkok".
Karakter busa joknya tidak terlalu empuk sehingga mampu menopang punggung dengan baik dan membuat badan tidak cepat lelah.
Indomobil Emotor Sprinto
Spesifikasi Menunjang dan Fitur Interaktif
Beralih ke sektor dapur pacu, Sprinto mengandalkan motor penggerak Hub Drive berkekuatan 3,5 kW dengan torsi maksimum mencapai 195 Nm.
Motor listrik ini menggendong baterai berjenis Lithium berkapasitas 2,45 kWh yang diklaim pabrikan mampu menempuh jarak hingga 110 km dalam sekali pengisian daya penuh.
Berdasarkan pengujian riil rute kombinasi komuter (Bogor–Jakarta) sejauh 62 km, konsumsi energinya mencatatkan rata-rata 23,31 Wh/km dengan menghabiskan daya total 1,44 kWh.
Artinya, daya jelajah riilnya berada di kisaran 100 km sampai 105 km sekali cas penuh.
Untuk menyalakan motor, saya diberi dua pilihan praktis: menggunakan anak kunci konvensional atau tinggal menekan tombol petir dua kali pada remot bawaan.
Indomobil Emotor Sprinto
Bicara fitur, panel instrumen digitalnya sudah mendukung konektivitas smartphone berbasis Android Auto untuk menampilkan navigasi Google Maps langsung di dasbor. Namun, ada dua catatan evaluasi.
Pertama, pancaran layar terlalu terang dan menyilaukan mata saat riding malam hari, meski sudah disetel di pengaturan paling redup.
Kedua, sistemnya mendeteksi motor sebagai mobil secara otomatis, sehingga pengendara wajib mengaktifkan opsi "hindari jalan tol" secara manual agar tidak tersasar.
Indomobil Emotor Sprinto
Rasa Berkendara Halus dengan Kaki-kaki Dewasa
Penyaluran tenaganya melalui tiga mode berkendara terasa sangat halus dan minim hentakan dari posisi diam. Kecepatan puncaknya sendiri mampu menyentuh 90–95 km/jam saat mode Boost.
Meskipun batas kecepatannya berbeda, respons tarikan gas dari ketiga mode berkendara ini sayangnya cenderung terasa sama halus. Sensasi berkendara di mode Sport maupun Boost tidak memberikan perbedaan instan yang signifikan.
Saya yang berekspektasi merasakan sensasi "ngejambak" yang agresif khas motor listrik torsi besar di mode tertingginya mungkin akan merasa sedikit kecewa karena karakternya yang terlampau kalem.
Namun, nilai plus utama justru ada di sektor kaki-kaki. Mengandalkan roda berdiameter 14 inci seperti kebanyakan skutik konvensional, dengan balutan ban radial berukuran 90/90-R14 di depan dan 100/80-R14 di belakang, bantingan suspensinya terasa sangat dewasa.
Rasanya berbobot dan solid, tidak terasa ringkih saat melewati sambungan jalan atau aspal bergelombang. Kenyamanan tersebut dikawal oleh sistem pengereman rem cakram (disc brake) ganda di depan dan belakang yang bekerja dengan sangat pakem.
Indomobil Emotor Sprinto
Biaya Kepemilikan yang Ekonomis
Terakhir soal biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership). Jika dalam setahun motor dipakai sejauh 12.000 km, kebutuhan dayanya mencapai 279,72 kWh.
Mengacu tarif listrik PLN rumah tangga nonsubsidi golongan 1.300 VA ke atas saat ini sebesar Rp 1.444,70 per kWh, biaya cas murni di rumah selama setahun hanya Rp 404.111.
Pengeluaran ini bisa dipangkas hingga Rp 0 jika rajin memanfaatkan fasilitas fast charger gratis di jaringan diler resmi Indomobil Emotor.
Ditambah insentif pajak dari pemerintah berupa PKB Rp 0 yang membuat pemilik hanya membayar SWDKLLJ Rp 35.000 per tahun, serta gratis biaya jasa servis berkala pada 6 bulan pertama, maka total pengeluaran tahunan murni berada di angka Rp 439.111 saja (atau setara Rp 36.592 per bulan).
Memasuki bulan ke-18 dan ke-30, biaya jasa servis rutin baru muncul sebesar Rp 37.500 per kunjungan di luar komponen habis pakai seperti kampas rem (Rp 43.000), ban depan-belakang (Rp 600.500), dan bearing roda depan (Rp 24.500).
Kesimpulan
Indomobil Emotor Sprinto seharga Rp 25.750.000 (OTR Jadetabek) ini sukses memadukan rasa berkendara natural khas skutik konvensional dengan efisiensi biaya operasional yang murah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang