Apakah Kamu Termasuk Morning Person? Kenali Tandanya

Bangun pagi tanpa drama, merasa segar saat matahari baru terbit, dan bisa langsung fokus bekerja, jika ini terdengar familier, bisa jadi kamu termasuk morning person.
Istilah ini merujuk pada individu yang secara alami lebih aktif dan produktif di pagi hari dibandingkan malam hari.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan morning person?
Apa saja tandanya, dan benarkah kebiasaan ini dipengaruhi faktor genetik? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Morning Person?
Morning person adalah sebutan untuk orang yang memiliki kecenderungan biologis untuk bangun dan beraktivitas lebih awal.
Dalam dunia sains, kondisi ini berkaitan dengan ritme sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun selama 24 jam.
Menurut laporan Sleep Foundation, ritme sirkadian dipengaruhi oleh cahaya, hormon melatonin, serta kebiasaan harian.
Orang dengan kronotipe pagi (morning chronotype) biasanya merasa paling bertenaga di pagi hingga siang hari, lalu mulai mengantuk lebih awal di malam hari.
Ahli saraf sekaligus pakar tidur dari University of California, Berkeley, Matthew Walker, dalam bukunya Why We Sleep, menjelaskan bahwa perbedaan kronotipe adalah hal biologis dan bukan sekadar soal kebiasaan.
Artinya, menjadi morning person atau night owl bukan semata-mata soal disiplin, melainkan juga dipengaruhi faktor internal tubuh.
Ciri-ciri Morning Person
Mudah Bangun Pagi Tanpa Kesulitan
Morning person cenderung bisa bangun lebih awal tanpa harus menekan tombol snooze berkali-kali.
Mereka bahkan bisa terbangun sebelum alarm berbunyi.
Lebih Produktif di Awal Hari
Energi dan fokus berada di titik optimal pada pagi hari.
Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi biasanya lebih mudah diselesaikan sebelum siang.
Tidur Lebih Awal dan Teratur
Mereka umumnya merasa mengantuk lebih cepat di malam hari, misalnya sekitar pukul 21.00–22.00, dan memiliki jadwal tidur yang konsisten.
Energi dan Fokus Lebih Stabil di Pagi Hari
Berbeda dengan night owl yang “panas” di malam hari, morning person cenderung mengalami penurunan energi setelah sore.
Manfaat Menjadi Morning Person
Produktivitas Lebih Optimal
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kronotipe pagi cenderung memiliki performa kerja yang stabil karena jam aktif mereka selaras dengan jam kerja konvensional.
Pola Hidup Lebih Teratur
Bangun lebih pagi memberi ruang untuk sarapan, olahraga ringan, atau persiapan kerja tanpa terburu-buru.
Rutinitas yang konsisten juga berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih baik.
Waktu Lebih Banyak untuk Diri Sendiri
Pagi hari sering kali lebih tenang dan minim distraksi.
Banyak orang memanfaatkan waktu ini untuk membaca, meditasi, atau sekadar menikmati kopi sebelum memulai aktivitas.
Kesehatan Mental Lebih Terjaga
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 2018 menemukan bahwa individu dengan kecenderungan bangun lebih pagi memiliki risiko depresi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang sangat aktif di malam hari.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hubungan ini kompleks dan dipengaruhi banyak faktor lain.
Ilustrasi bangun pagi. Rutinitas pagi yang sehat ternyata tidak harus ekstrem, cukup kebiasaan kecil yang konsisten.
Perbedaan Morning Person dan Night Owl
Night owl adalah kebalikan dari morning person.
Mereka cenderung sulit bangun pagi, tetapi sangat produktif dan kreatif pada malam hari.
Dalam istilah ilmiah, keduanya disebut sebagai kronotipe, variasi alami dalam ritme biologis manusia.
Menurut American Academy of Sleep Medicine, memaksa night owl untuk mengikuti jadwal pagi ekstrem dapat memicu apa yang disebut “social jet lag”, yakni kondisi ketika jam biologis tidak selaras dengan tuntutan sosial.
Karena itu, penting untuk memahami kecenderungan diri sendiri sebelum menilai apakah harus menjadi morning person atau tidak.
Apakah Morning Person Dipengaruhi Genetik?
Jawabannya, ya, sebagian. Studi genom berskala besar yang diterbitkan di Nature Communications mengidentifikasi ratusan varian gen yang berkaitan dengan preferensi waktu bangun seseorang.
Artinya, kecenderungan menjadi morning person atau night owl memiliki komponen genetik.
Namun, faktor lingkungan tetap berperan besar.
Paparan cahaya, jadwal kerja, kebiasaan menggunakan gawai, hingga pola makan dapat memengaruhi ritme sirkadian.
Dengan kata lain, meskipun gen berpengaruh, kebiasaan tetap bisa membentuk pola tidur seseorang.
Tips Melatih Diri Menjadi Morning Person
Bagi kamu yang ingin mencoba menjadi lebih produktif di pagi hari, beberapa langkah berikut bisa diterapkan secara bertahap:
Atur Jadwal Tidur Secara Konsisten
Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari membantu menstabilkan ritme sirkadian.
Hindari perbedaan waktu tidur yang terlalu jauh antara hari kerja dan akhir pekan.
Kurangi Paparan Gadget Sebelum Tidur
Cahaya biru dari layar ponsel atau laptop dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk.
Usahakan berhenti menggunakan gawai setidaknya satu jam sebelum tidur.
Buat Rutinitas Pagi yang Menyenangkan
Mulailah hari dengan aktivitas yang kamu sukai, seperti mendengarkan musik, membuat kopi favorit, atau berjalan kaki singkat.
Hal ini bisa membantu tubuh dan pikiran beradaptasi dengan jadwal baru.
Lakukan Perubahan Secara Bertahap
Jangan langsung mengubah jam bangun dua jam lebih pagi dalam semalam.
Majukan waktu tidur dan bangun sekitar 15–30 menit setiap beberapa hari agar tubuh tidak “kaget”.
Walau begitu, yang terpenting adalah menemukan pola yang paling sesuai dengan ritme alami tubuhmu.
Jadi, apakah kamu benar-benar morning person, atau justru lebih bersinar saat malam tiba?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang