Tradisi 7 Bulanan Seperti Alyssa Daguise, Ini Filosofi dan Maknanya
Pasangan selebritas Alyssa Daguise dan Al Ghazali menggelar acara tujuh bulanan pada Jumat (6/2/2026) yang dihadiri oleh kerabat dan keluarga besar.
Tradisi yang telah diwariskan lintas generasi ini bukan sekadar seremoni keluarga, melainkan rangkaian ritual sarat makna yang mengandung doa, harapan, dan refleksi spiritual menjelang kelahiran buah hati.
Dalam berbagai budaya di Indonesia, tujuh bulanan menjadi penanda fase penting kehamilan.
Saat usia kandungan memasuki bulan ketujuh, calon ibu diyakini berada pada masa krusial yang membutuhkan doa, perlindungan, dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Mitoni, ritual syukur dalam tradisi Jawa
Dalam adat Jawa, tujuh bulanan dikenal dengan istilah Mitoni, yang berasal dari kata “pitu” atau tujuh.
Tradisi ini umumnya dilakukan pada kehamilan anak pertama dan menjadi simbol penyempurnaan doa bagi ibu dan janin.
Mengutip Situs Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (7/2/202026), Mitoni merupakan bagian dari tradisi adat Jawa yang bertujuan melindungi serta memberkati ibu hamil dan calon bayi.
Prosesi dimulai dengan persiapan bersama keluarga dan warga sekitar, menciptakan suasana gotong royong yang hangat.
Pada hari pelaksanaan, para undangan berkumpul untuk mengikuti doa bersama. Persembahan berupa sesajen makanan dan bunga disiapkan sebagai simbol rasa syukur atas kehamilan yang berjalan lancar.
Puncak acara adalah prosesi memandikan ibu hamil dan suami, yang dilakukan secara khidmat sambil diiringi doa serta nasihat dari sesepuh adat.
Air dalam prosesi siraman melambangkan pembersihan lahir dan batin, sementara doa-doa yang dipanjatkan menjadi harapan agar proses persalinan kelak berlangsung aman dan lancar.
Penampilan Alyssa Daguise di perayaan 7 bulan kehamilan pada Jumat (7/2/2026).
Tujuh bulanan dalam budaya Sunda
Tak hanya adat Jawa yang memiliki upacara 7 bulanan, dalam Budaya Sunda, tujuh bulanan tidak identik dengan bubur merah dan putih.
Dikutip Budaya Indonesia, prosesi adat Sunda dimulai dengan memandikan calon ibu, suami, dan mertua menggunakan air yang dicampur tujuh macam bunga.
Air siraman disaring menggunakan nyiru saat diguyurkan, melambangkan penyaringan hal-hal buruk agar hanya kebaikan yang menyertai kelahiran.
Di tengah prosesi, ikan atau belut dimasukkan ke dalam kain yang membalut tubuh calon ibu dan dibiarkan meluncur melewati perut. Ritual ini menjadi simbol harapan agar bayi lahir dengan lancar, tanpa hambatan.
Perbedaan siraman Jawa dan Sunda
Meski sama-sama mengenal ritual siraman, adat Jawa Tengah dan Jawa Barat memiliki penekanan yang berbeda.
Di Jawa Tengah, prosesi siraman cenderung lebih formal dan terstruktur. Jumlah air, jenis bunga, hingga urutan penyiraman memiliki makna simbolik yang mengacu pada keseimbangan hidup dan keselarasan dengan alam.
Sementara itu, di Jawa Barat, ritual tujuh bulanan mengalami akulturasi dengan budaya Sunda.
Siraman tetap menjadi inti prosesi, namun dilakukan dengan suasana yang lebih cair dan sarat simbol kehidupan sehari-hari.
Makna kebersamaan dan pelestarian budaya
Di tradisi Sunda, usai siraman, calon ibu menjalani prosesi berjualan rujak. Transaksi dilakukan menggunakan uang dari kepingan genteng buatan tamu.
Uang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kendi bekas air siraman, lalu kendi dipecahkan di jalan sebagai simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan.
Tradisi ini umumnya hanya dilakukan pada kehamilan anak pertama. Lebih dari sekadar ritual, tujuh bulanan menjadi ruang kebersamaan, mempererat hubungan keluarga dan masyarakat.
Seperti yang dilakukan Alyssa Daguise, perayaan tujuh bulanan di era modern tetap mempertahankan esensi utamanya, yaitu ungkapan rasa syukur, doa, dan penghormatan terhadap proses kehidupan.
Di tengah perubahan zaman, tradisi ini mengingatkan pentingnya merawat budaya sebagai warisan penuh makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang