Mahasiswi Katolik Jadi Wisudawan Terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun, Raih IPK 3,79

lulusan terbaik, UMMAD, Mahasiswi Katolik Jadi Wisudawan Terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun, Raih IPK 3,79

Kristofera Karolina Kewa, S.Kes, mahasiswi Program Studi Administrasi Kesehatan Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), ditetapkan sebagai salah satu wisudawan terbaik dalam prosesi wisuda pada akhir Desember 2025.

Mahasiswi asal Nusa Tenggara Timur yang akrab disapa Olin tersebut adalah penganut agama Katolik.

Penetapan Olin sebagai wisudawan terbaik didasarkan pada capaian akademiknya selama menempuh pendidikan. 

Ia meraih IPK 3,79 dan menjadi pemilik nilai tertinggi di antara para wisudawan terbaik yang diumumkan dalam prosesi wisuda. 

Skripsi yang disusun Olin berjudul Analisis Peran Sekolah Luar Biasa dalam Implementasi Program Posyandu Rutin untuk Meningkatkan Layanan Kesehatan Bagi Anak Disabilitas di Sekolah Luar Biasa.

"Hal ini bisa kita lihat tadi ada yang memberi sambutan adalah mahasiswa yang jadi lulusan terbaik wisuda kali ini dari Nusa Tenggara Timur, namanya Kristofora Karolina Kewa S.Kes dari Prodi Administrasi Kesehatan,” ujar Rektor UMMAD Prof Sofyan Anif, dikutip dari laman resmi Kampus, Senin (12/1/2026).

Pengalaman Olin Kuliah di Kampus Muhammadiyah

Selama menempuh perkuliahan di UMMAD, Olin mengaku tidak pernah mengalami perlakuan berbeda meskipun berstatus sebagai mahasiswi non-Muslim. 

Ia menyebut lingkungan kampus bersikap terbuka dan memberikan ruang yang sama bagi seluruh mahasiswa.

“Selama saya kuliah di UMMAD, tidak ada pengaruh negatif sebagai mahasiswa non-Muslim. Saya merasa diterima dengan baik, baik oleh dosen maupun teman-teman mahasiswa,” terang Olin.

Suasana akademik di UMMAD juga kondusif dan menghargai perbedaan. Ia menilai dosen bersikap profesional serta adil dalam proses pembelajaran tanpa membedakan latar belakang agama mahasiswa.

“Teman-teman juga ramah serta saling mendukung dalam kegiatan akademik maupun non-akademik,” ujar Olin.

Alasan Olin Pilih Kampus Muhammadiyah

Terkait pilihannya kuliah di UMMAD, Olin menjelaskan bahwa sejak awal ia ingin melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan, khususnya keperawatan. 

Namun, setelah mempertimbangkan biaya pendidikan yang cukup tinggi, ia mencari alternatif lain yang masih berkaitan dengan bidang kesehatan.

Ia sempat mempertimbangkan program kebidanan, tetapi karena hanya tersedia jenjang D3, sementara ia ingin menempuh pendidikan S1, Olin kembali mencari opsi lain. 

Diskusi dengan teman yang juga berencana mendaftar di UMMAD membawanya pada Program Studi Administrasi Kesehatan.

“Setelah saya mencari tahu lebih lanjut mengenai program studi tersebut, saya merasa tertarik karena masih berkaitan dengan bidang kesehatan dan sesuai dengan minat serta kemampuan saya,” terang Olin.

"Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memilih UMMAD sebagai tempat melanjutkan pendidikan," sambungnya.

Pengalaman Unik Saat Ikut Mata Kuliah AIK

Olin menyebut pemilihan Program Studi Administrasi Kesehatan sebagai bentuk keinginannya untuk tetap berkontribusi di sektor kesehatan, meskipun tidak terjun langsung sebagai tenaga medis.

Menurutnya, Program Studi Administrasi Kesehatan membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai pengelolaan layanan kesehatan, administrasi rumah sakit, serta sistem pelayanan kesehatan secara profesional.

“Selain itu, latar belakang minat saya pada bidang kesehatan membuat saya merasa bahwa Administrasi Kesehatan adalah pilihan yang tepat dan sesuai dengan kemampuan serta rencana karier saya ke depan,” terang Olin.

Selama berkuliah di UMMAD, Olin mengaku punya pengalaman unik ketika harus mengikuti mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Pada awalnya, ia sempat merasa canggung karena perbedaan latar belakang keyakinan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia dapat menyesuaikan diri.

Hal itu karena materi AIK lebih menekankan nilai-nilai moral, etika, dan toleransi yang bersifat universal sehingga tetap relevan untuk dipelajari oleh seluruh mahasiswa.

“Saya menganggap mata kuliah tersebut sebagai tambahan wawasan dan pembelajaran tentang keberagaman, serta tidak merasa dipaksakan dalam hal keyakinan,” jelas Olin.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang