Mengunjungi "M Bloc" ala Kuala Lumpur, Serasa Terjebak di Labirin Buku
Tren mengalihfungsikan bangunan tua tidak terpakai menjadi sebuah pusat kegiatan baru rupanya tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di Kuala Lumpur.
Jika Jakarta punya M Bloc atau Posbloc yang menyulap bangunan tua menjadi pusat "skena" anak muda, Kuala Lumpur memiliki REXKL yang punya suasana serupa.
Dikutip dari situs resminya, REXKL dulunya merupakan salah satu bioskop tertua se-Malaysia yang punya sejarah panjang.
Rex Cinema, nama bioskop tersebut, sempat terbakar pada 1972 dan melalui masa-masa keemasannya hingga Kembali terbakar pada 2002 yang membuatnya mati suri.
Gedung ini lantas direaktivasi Kembali pada 2019 dengan nama REXKL dan menjadikannya sebagai pusat komunitas dan budaya yang menghidupkan sisi terlupakan dari Kuala Lumpur.
Ketika Kompas.com berkunjung ke REXKL pada Rabu (3/12/2025), nuansa jadul langsung terasa, sedikit banyak mengingatkan pada M Bloc atau Pos Bloc yang berdiri Jakarta.
Beberapa bagian pada gedung dibiarkan terekspos tanpa dipercantik secara berlebihan, suasana pengap dan gerah juga terasa di sejumlah sudut gedung.
Akan tetapi, hal itu semua rasanya dapat dimaklumi karena kondisi gedung yang memang sudah berumur dan justru memberi sensasi tersendiri.
Suasana klasik itu dipadukan dengan aneka warna dari bermacam-macam kedai kopi dan makanan yang ada di lantai dasar gedung.
Pada malam-malam tertentu, area makan itu pun bisa menjadi venue kegiatan seni seperti pertunjukkan music.
Naik ke lantai dua, ada beberapa toko pernak-pernik jadul yang beroperasi, ada banyak mainan, action figure, vinyl, hingga pakaian yang bisa dibawa pulang.
Meski demikian, kebanyakan pengunjung tampak sekadar melihat barang-barang tersebut sambil mencari sudut-sudut yang estetik untuk difoto dan dipamerkan di media social.
Namun, harus diingat bahwa tidak semua toko mengizinkan pengunjungnya untuk memfoto isi toko mereka.
Labirin buku
Daya tarik utama REXKL adalah toko buku Bookxcess yang terletak di lantai tiga gedung. Ini adalah jaringan toko buku asal Malaysia di balik pameran buku Big Bad World yang sudah berulang kali digelar di Indonesia dan menyedot perhatian pencinta buku.
Menariknya, toko Bookxcess di REXKL menempati area bekas bioskop sehingga desain interiornya pun dibuat berundak-undang mengikuti struktur bangunan.
Lemri-lemari buku di toko ini dibuat tinggi menjulang dan disusun sedemikian rupa sehingga pengunjung terasa berada di tengah labirin buku di antara lemari-lemari itu.
Tak sedikit pengunjung yang kebingungan mencari jalan keluar saking rumitnya interior toko tersebut.
Buat pencinta serial Harry Potter, toko buku ini mungkin mengingatkan pada Room of Requirements yang berisi tumpukan barang-barang tinggi menjulang.
Desain interior yang unik ini membuat Bookxcess REXKL menjadi salah satu spot "Instagrammable" di Kuala Lumur
Pada kunjungan Kompas.com Rabu kemarin, ada saja pengunjung yang datang membawa tripod untuk membuat vlog atau berburu titik-titik menarik yang layak dipamerkan di media social.
Bahkan, beberapa pengunjung rela antre untuk dapat berfoto di satu atau dua spot yang tampak disiapkan oleh pengelola untuk menjadi lokasi foto.
Terlepas dari itu, koleksi buku di Bookxcess terbilang lengkap, dari buku arsitektur, fiksi, politik, hingga buku-buku anak semua ada, meski pilihan judul pada masing-masing genre tidak sama variatifnya.
Beralamat di 80 Jalan Sultan dan buka setiap hari pukul 08.30 Waktu setempat, REXKL bisa menjadi opsi wisata yang tak biasa Ketika berlibur di Kuala Lumpur.
Lokasinya pun strategis, diapit oleh dua stasiun LRT dan MRT sekaligus, Pasar Seni dan Plaza Rakyat, Jarak kurang dari 1 kilometer.
REXKL juga masih berada dalam satu kawasan dengan Petaling Street Market dan Central Market yang lama dikenal sebagai pusat belanja oleh-oleh Malaysia.
Siapkan outfit terbaikmu untuk berfoto-foto di REXKL, tetapi sebaiknya tanggalkan dulu pakaian-pakaian tebal karena suasana yang pengap dan gerah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang