Penjualan Anjlok, Bisnis Pizza Hut Terancam Dijual!
Industri restoran tidak pernah mudah, apalagi untuk jaringan global berusia puluhan tahun seperti Pizza Hut. Makanan cepat saji ini dulunya menjadi favorit jutaan orang, tapi kini menghadapi tekanan ekonomi yang membuat masa depannya menjadi tidak pasti.
Inflasi yang kembali meningkat, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan pergeseran selera konsumen membuat pengeluaran untuk restoran menurun, termasuk bagi merek yang semula sangat dikenal.
Pizza Hut sendiri bukan pemain kecil. Didirikan pada 1958 oleh kakak-beradik Dan dan Frank Carney di Wichita, Kansas, Pizza Hut berkembang cepat hingga 6 lokasi pada tahun pertama dan mulai waralaba pada 1959. Pada 1977, ketika Pepsi membeli Pizza Hut seharga US$300 juta atau sekitar Rp5 triliun, jaringan ini telah memiliki 4.000 lokasi.
Kini, Pizza Hut memiliki 19.786 restoran, termasuk 13.312 restoran di luar AS di lebih dari 100 negara. Namun, tekanan global mulai terasa. Konsumen mulai beralih ke pizzerias gourmet atau menahan pengeluaran, sementara pengangguran di AS naik signifikan, sekitar 1 juta pekerja dipecat dalam 9 bulan pertama 2025, dan tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,3 persen pada Agustus.
Inflasi meningkat menjadi 3 persen pada September, dari 2,3 persen pada April, semakin membebani rumah tangga. Hasilnya, Pizza Hut mengalami penurunan penjualan dan beberapa franchise besar bahkan bangkrut.
Hal ini memaksa pemilik Pizza Hut, Yum! Brands, yang juga mengelola KFC dan Taco Bell, mempertimbangkan perubahan besar, termasuk kemungkinan menjual seluruh bisnis Pizza Hut.

Di tahun 2025, perusahaan menghadapi tekanan berat. Franchisee di Inggris mengajukan kebangkrutan, dan di Turki, semua 537 restorannya ditutup setelah kontrak waralaba dibatalkan karena rendahnya penjualan dan standar operasional yang buruk.
Yum! Brands membeli 64 lokasi Pizza Hut di Inggris untuk mencegah penutupan, tapi 68 lokasi dan 11 restoran khusus pengiriman tetap ditutup, sehingga menimbulkan 1.210 pegawai kehilangan pekerjaan. Sementara pembelian di 64 lokasi merekrut 1.276 pekerjaan.
“Akuisisi ini ditujukan untuk menjaga pengalaman pelanggan dan melindungi pekerja sebanyak mungkin. Prioritas utama kami adalah menjaga operasional di lokasi yang dibeli dan mendukung rekan kerja selama transisi,” kata Nicolas Burquier, Managing Director Pizza Hut Eropa dan Kanada, sebagaimana dikutip dari The Street, Jumat, 7 November 2025.
Di sisi keuangan, Pizza Hut menghadapi penurunan laba operasional. Pada kuartal ketiga 2025, penjualan sistem-wide dan same-store masing-masing turun 1 persen, sementara laba operasional turun 8 persen. Secara total, laba operasional year-to-date turun 14 persen menjadi US$239 juta atau sekitar Rp4 triliun, dengan margin operasional menyusut menjadi 33,6 persen dari 38,9 persen tahun sebelumnya.
CEO baru Yum! Brands, Chris Turner, dan CFO Ranjith Roy memutuskan melakukan review strategis. “Tim Pizza Hut telah bekerja keras menghadapi tantangan bisnis dan kategori, namun performa Pizza Hut menunjukkan perlunya tindakan tambahan agar merek ini bisa mencapai nilai penuhnya, yang mungkin lebih baik dilakukan di luar Yum! Brands,” ujarnya.
“Seiring kami mempersiapkan bisnis Pizza Hut untuk kemungkinan transaksi, hasil Q4 mungkin akan terpengaruh oleh tindakan yang berkaitan dengan franchise tertentu,” tambah Roy.
Turner menekankan, bahwa fokus utama perusahaan tetap pada dua merek terbesar mereka, yakni KFC dan Taco Bell yang menyumbang hampir 90 persen dari laba operasional divisi global. "Mereka yang mendorong sebagian besar pertumbuhan, dan akan terus berada di jalur yang sama,” jelasnya.