Serangan Siber di Bandara Besar Eropa, Ini Analisa Ahli

Kelompok kriminal diduga menjadi dalang penyerangan siber ke penyedia sistem check-in otomatis dan boarding di sejumlah bandara besar Eropa pada Jumat (19/9/2025).
Hal itu diungkapkan oleh Badan Keamanan Siber Uni Eropa, ENISA pada Senin (22/9/2025) seperti dilansir dari BBC.
Dalam sebuah pernyataan kepada Kantor Berita Reuters, ENISA menyatakan para penjahat menggunakan ransomware untuk menimbulkan kekacauan di bandara-bandara di seluruh dunia.
Beberapa bandara tersibuk di Eropa seperti Bandara Heatrow Inggris dan Bandara Brussels Belgia telah menghabiskan beberapa hari terakhir untuk memulihkan operasi normal.
ENISA menyatakan kepada BBC pada hari Senin, perangkat lunak berbahaya tersebut digunakan untuk mengacak sistem check-in otomatis.
"Jenis ransomware telah diidentifikasi. Penegak hukum dilibatkan untuk menyelidiki," kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita Reuters.
Belum diketahui pasti siapa sosok di balik serangan ini. Namun, kelompok kriminal sering kali menggunakan ransomware untuk mengganggu sistem secara serius dan meminta tebusan dalam bentuk bitcoin untuk memulihkan kerusakan.
Dikutip dari AP News, pihak bandara menyatakan masalah yang terjadi berpusat pada penyedia sistem check-in dan boarding dan bukan dari pihak maskapai atau bandara.
Bandara Heathrow London, Inggris yang mengalami gangguan telah memperingatkan adanya keterlambatan penerbangan.
Pihak bandara menyebut adanya “masalah teknis” pada sistem check-in dan boarding milik Collins Aerospace, perusahaan penyedia perangkat lunak untuk sejumlah maskapai global.
Heathrow telah menurunkan staf tambahan guna membantu penumpang, sembari menyarankan agar calon penumpang selalu memeriksa status penerbangan sebelum berangkat.
Collins Aerospace, perusahaan yang menyediakan perangkat lunak sistem check-in mandiri, mencetak boarding pass dan label bagasi, serta mengirimkan bagasi mereka dari counter check-in, menyebutkan adanya "gangguan siber" pada perangkat lunak MUSE (Multi-User System Environment) di sejumlah bandara.
Serangan siber yang sangat cerdik
Sejumlah ahli menilai serangan siber ini dilakukan oleh peretas, organisasi kriminal atau aktor negara. Tidak langsung diketahui siapa yang mungkin berada di balik serangan siber ini, tetapi para ahli mengatakan kemungkinan besar peretas, organisasi kriminal, atau aktor negara.
Analis perjalanan Paul Charles mengatakan dirinya terkejut oleh serangan yang telah memengaruhi salah satu perusahaan penerbangan dan pertahanan terkemuka dunia tersebut.
Ia menilai kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena perusahaan dengan layanan sistem yang besar dan tangguh telah terdampak.
"Ini memang serangan siber yang sangat cerdik karena memengaruhi sejumlah maskapai dan bandara secara bersamaan — bukan hanya satu bandara atau satu maskapai, tetapi mereka telah masuk ke sistem inti yang memungkinkan maskapai untuk secara efektif melakukan check-in banyak penumpang mereka di meja check-in yang berbeda di berbagai bandara di seluruh Eropa," ujar Paul kepada Sky News seperti dilansir dari AP.
Sistem check-in digital lumpuh
Sejumlah bandara besar di Eropa mengalami gangguan operasional akibat serangan siber terhadap penyedia sistem pihak ketiga, pada Jumat malam (20/9/2025).
Insiden ini berdampak pada proses check-in dan boarding otomatis, memicu keterlambatan hingga pembatalan penerbangan.
Dengan sistem digital lumpuh, seluruh check-in harus dilakukan secara manual. Pihak bandara pun mengingatkan kemungkinan adanya keterlambatan dan pembatalan lanjutan.
Bandara Berlin, Jerman yang mengimbau penumpang untuk bersiap menghadapi waktu tunggu lebih lama dari biasanya.
“Kami sedang mengupayakan solusi cepat,” tulis otoritas bandara dalam pernyataan resminya.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.